Keajaiban Sedekah
(Ust. Yusuf Mansyur)
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Wuh, inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.
Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. kepada yang mau peduli dan berbagi.
Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.
Insya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya, saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga, kawan dan sahabat Saudara.
Barangkali ada kebaikan bersama yang bisa diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa mengambil petikan hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya.
Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan sebuah amal. Kepada Allah juga semuanya berpulang.
Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat "mukhlishiina lahuddien", derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.
Matematika Dasar Sedekah
Apa yang kita lihat dari matematika di bawah ini?
10 – 1 = 19
Pertambahan ya? Bukan pengurangan?
Kenapa matematikanya begitu?
Matematika pengurangan darimana?
Koq ketika dikurangi, hasilnya malah lebih besar?
Kenapa bukan 10-1 = 9?
Inilah kiranya matematika sedekah. Dimana ketika kita memberi dari apa yang kita punya, Allah justru akan mengembalikan lebih banyak lagi. Matematika sedekah di atas, matematika sederhana yang diambil dari QS. 6: 160, dimana Allah menjanjikan balasan 10x lipat bagi mereka yang mau berbuat baik.
Jadi, ketika kita punya 10, lalu kita sedekahkan 1 di antara yang sepuluh itu, maka hasil akhirnya, bukan 9. Melainkan 19. Sebab yang satu yang kita keluarkan, dikembalikan Allah sepuluh kali lipat.
Hasil akhir, atau jumlah akhir, bagi mereka yang mau bersedekah, tentu akan lebih banyak lagi, tergantung Kehendak Allah. Sebab Allah juga menjanjikan balasan berkali-kali lipat lebih dari sekedar sepuluh kali lipat. Dalam QS. 2: 261, Allah menjanjikan 700x lipat.
Tinggallah kita yang kemudian membuka mata, bahwa pengembalian Allah itu bentuknya apa? Bukalah mata hati, dan kembangkan ke-husnudzdzanan, atau positif thinking ke Allah. Bahwa Allah pasti membalas dengan balasan yang pas buat kita.
Memberi Lebih Banyak, Menuai Lebih Banyak
Kita sudah belajar matematika dasar sedekah, dimana setiap kita bersedekah Allah menjanjikan minimal pengembalian sepuluh kali lipat (walaupun ada di ayat lain yg Allah menyatakan akan membayar 2x lipat). Atas dasar ini pula, kita coba bermain-main dengan matematika sedekah yang mengagumkan. Bahwa semakin banyak kita bersedekah, ternyata betul Allah akan semakin banyak juga memberikan gantinya, memberikan pengambalian dari-Nya.
Coba lihat ilustrasi matematika berikut ini:
Pada pembahasan yang lalu, kita belajar:
10 - 1 = 19
Maka, ketemulah ilustrasi matematika ini:
10 - 2= 28
10 - 3= 37
10 - 4= 46
10 - 5= 55
10 - 6= 64
10 - 7= 73
10 - 8= 82
10 - 9= 91
10 - 10= 100
Menarik bukan? Lihat hasil akhirnya? Semakin banyak dan semakin banyak. Sekali lagi, semakin banyak bersedekah, semakin banyak penggantian dari Allah.
Mudah-mudahan Allah senantiasa memudahkan kita untuk bersedekah, meringankan langkah untuk bersedekah, dan membuat balasan Allah tidak terhalang sebab dosa dan kesalahan kita.
Sedekah bisa mendatangkan ampunan Allah, menghapus dosa dan menutup kesalahan dan keburukan. Sedekah bisa mendatangkan ridha Allah, dan sedekah bisa mendatangkan kasih sayang dan bantuan Allah. Wuh, inilah sekian fadilah sedekah yang ditawarkan Allah bagi para pelakunya.
Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah. Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. kepada yang mau peduli dan berbagi.
Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.
Insya Allah, hari demi hari, saya akan menulis tentang sedekah, dan segala apa yang terkait dengan sedekah. Di website ini. Saudara yang melihat, Saudara yang membaca, Saudara yang bisa memetik hikmahnya, saya mempersilahkan membagi kepada sebanyak-banyaknya keluarga, kawan dan sahabat Saudara.
Barangkali ada kebaikan bersama yang bisa diambil. Di website ini pula, Saudara akan bisa mengambil petikan hadits hari per hari dan ayat hari per hari, yang berkaitan dengan sedekah dan amaliyah terkait, dengan pembahasan singkatnya.
Di pembahasan-pembahasan tentang sedekah, saya akan banyak mendorong diri saya dan saudara, untuk melakukan sedekah, dengan mengemukakan fadilah-fadilah/keutamaannya. Insya Allah pembahasan akan sampai kepada Ihsan, Mahabbah, Ikhlas dan Ridha Allah. Apa yang tertulis, adalah untuk memotivasi supaya tumbuh keringanan dalam berbagi, kemauan dalam bersedekah. Sebab biar bagaimanapun, manusia adalah pedagang. Ia perlu dimotivasi untuk melakukan sebuah amal.
Kepada Allah juga semuanya berpulang.
Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat "mukhlishiina lahuddien", derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.
(BERSAMBUNG)
www.wisatahati.com
www.pppa.or.id
PPPA DAARUL QUR'AN
THE MIRACLE
SEDEKAH
__________________
Last edited by Wisatahati.com; 11th November 2008 at 18:40..
Reply With Quote
Wisatahati.com
View Public Profile
Visit Wisatahati.com's homepage!
Find all posts by Wisatahati.com
#2
Old 29th October 2008, 22:21
Wisatahati.com's Avatar
Wisatahati.com Wisatahati.com is offline
Registered Member
Join Date: Oct 2008
Location: Kota Tangerang
Posts: 5
Wisatahati.com is a king of Loser
Default The Miracle
Keajaiban Sedekah
(Ust. Yusuf Mansyur)
(SAMBUNGAN)
2.5 % Tidaklah Cukup
Saudaraku, barangkali sekarang ini zamannya minimalis. Sehingga ke sedekah juga hitung-hitungannya jadi minimalis. Angka yang biasa diangkat, 2,5%. Kita akan coba ilustrasikan, dengan perkalian sepuluh kali lipat, bahwa sedekah minimalis itu tidak punya pengaruh yang signifikan.
Contoh berikut ini, adalah contoh seorang karyawan yang punya gaji 1jt. Dia punya pengeluaran rutin sebesar 2jt. Kemudian dia bersedekah 2,5% dari penghasilan yang 1jt itu. Maka kita dapat perhitungannya sebagai berikut:
Sedekah: Sebesar 2,5%
2,5% dari 1.000.000 = 25.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 25.000 = 975.000
Tapi kita belajar, bahwa 975.000 bukan hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau sebesar 250.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
975.000 + 250.000 = 1.225.000
Lihat, "hasil akhir" dari perhitungan sedekah 2,5% dari 1jt, "hanya" jadi Rp. 1.225.000,-. Masih jauh dari pengeluaran dia yang sebesar Rp. 2jt. Boleh dibilang secara bercanda, bahwa jika dia sedekahnya "hanya" 2,5%, dia masih akan keringetan untuk mencari sisa 775.000 untuk menutupi kebutuhannya.
Coba Jajal Sedekah 10 %
Saudara sudah belajar, bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Ketika diterapkan dalam kasus seorang karyawan yang memiliki gaji 1jt dan pengeluarannya 2jt, maka dia hanya mendapatkan pertambahan 250rb, yang merupakan perkalian sedekah 2,5% dari 1jt, dikalikan sepuluh.
Sehingga "skor" akhir, pendapatan dia hanya berubah menjadi Rp. 1.225.000. Masih cukup jauh dari kebutuhan dia yang 2jt.
Sekarang kita coba terapkan ilustrasi berbeda. Ilustrasi sedekah 10%.
Sedekah: Sebesar 10%
10% dari 1.000.000 = 100.000
Maka, tercatat di atas kertas:
1.000.000 – 100.000 = 900.000
Kita lihat, memang kurangnya semakin banyak, dibandingkan dengan kita bersedekah 2,5%. Tapi kita belajar, bahwa 900.000 itu bukanlah hasil akhir. Allah akan mengembalikan lagi yang 2,5% yang dia keluarkan sebanyak sepuluh kali lipat, atau dikembalikan sebesar 1.000.000. Sehingga dia bakal mendapatkan rizki min haitsu laa yahtasib (rizki tak terduga) sebesar:
900.000 + 1.000.000 = 1.900.000
Dengan perhitungan ini, dia "berhasil" mengubah penghasilannya, menjadi mendekati angka pengeluaran yang 2jt nya. Dia cukup butuh 100rb tambahan lagi, yang barangkali Allah yang akan menggenapkan.
2.5 % Itu Cukup, Kalau ...
Setiap perbuatan, pasti ada balasannya. Dan satu hal yang saya kagumi dari matematika Allah, bahwa Spiritual Values, ternyatab selalu punya keterkaitan dengan Economic Values. Kita akan bahas pelan-pelan sisi ini, sampe kepada pemahaman yang mengagumkan tentang kebenaran janji Allah tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk.
Kita sedang membicarakan bahwa sedekah 2,5% itu tidaklah cukup. Mestinya, begitu saya ajukan dalam tulisan terdahulu, sedekah kita, haruslah minimal 10%. Dengan bersedekah 10%, insya Allah kebutuhan-kebutuhan kita, yang memang kita hidup di dunia pasti punya kebutuhan, akan tercukupi.
Dari ilustrasi di dua tulisan terdahulu, saya memaparkan bahwa ketika seorang karyawan bersedekah 2,5% dari gajinya yang 1jt, maka "pertambahannya" menjadi Rp. 1.225.000. Yakni didapat dari Rp. 975.000, sebagai uang tercatat setelah dipotong sedekah, ditambah dengan pengembalian sepuluh kali lipat dari Allah dari 2,5% nya. Bila sedekah 2,5% ini yang dia tempuh, sedangkan dia punya pengeluaran 2jt, maka kekurangannya teramat jauh. Dia masih butuh Rp. 775.000,-. Maka kemudian saya mengajukan agar kita bersedekah jangan 2,5%, tapi lebihkan. Misalnya 10%.
Saudaraku, ada pernyataan menarik dari guru-guru sedekah, bahwa katanya, sedekah kita yang 2,5% itu sebenarnya tetap akan mencukupi kebutuhan-kebutuhan kita, di dunia ini, maupun kebutuhan yang lebih hebat lagi di akhirat, kalau kita bagus dalam amaliyah lain selain sedekah. Misalnya, bagus dalam mengerjakan shalat. Shalat dilakukan selalu berjamaah. Shalat dilakukan dengan menambah sunnah-sunnahnya; qabliyah ba'diyah, hajat, dhuha, tahajjud. Bagus juga dalam hubungan dengan orang tua, dengan keluarga, dengan tetangga, dengan kawan sekerja, kawan usaha. Terus, kita punya maksiat sedikit, keburukan sedikit. Bila ini yang terjadi, maka insya Allah, cukuplah kita akan segala hajat kita. Allah akan menambah poin demi poin dari apa yang kita lakukan.
Hanya sayangnya, kita-kita ini justru orang yang sedikit beramal, dan banyak maksiatnya. Jadilah kita orang-orang yang merugi. Skor akhir yang sebenernya sudah bertambah, dengan sedekah 2,5% itu, malah harus melorot, harus tekor, sebab kita tidak menjaga diri. Perbuatan buruk kita, memakan perbuatan baik kita.
Tambahi terus amaliyah kita, dan kurangi terus maksiat kita.
-------------------------==========-------------------------
www.wisatahati.com
www.pppa.or.id
PPPA DAARUL QUR'AN
THE MIRACLE
SEDEKAH
__________________
Last edited by Wisatahati.com; 11th November 2008 at 18:43..
Reply With Quote
Wisatahati.com
View Public Profile
Visit Wisatahati.com's homepage!
Find all posts by Wisatahati.com
#3
Old 11th November 2008, 18:50
Wisatahati.com's Avatar
Wisatahati.com Wisatahati.com is offline
Registered Member
Join Date: Oct 2008
Location: Kota Tangerang
Posts: 5
Wisatahati.com is a king of Loser
Default Keistimewaan Sedekah
KEISTIMEWAAN SEDEKAH
Segala puji (hanya) bagi Allah, kita memuji-Nya baik dalam keadaan senang maupun susah. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalla, seorang yang pernah mengalami sakit dan tertimpa cobaan. Shalawat dan salam juga semoga tercurah bagi keluarga dan sahabat beliau yang penyabar lagi ridha terhadap taqdir Allah subhanahu wata’ala.
Pada era ini berbagai penyakit semakin menyebar dan bermacam-macam. Bahkan beberapa penyakit tidak bisa ditangani oleh dokter dan tidak ditemukan obatnya, seperti kanker dan semisalnya, meskipun sebenarnya obat penyakit tersebut ada. Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan suatu penyakit, melainkan ada obatnya. Namun obat tersebut belum diketahui, karena suatu hikmah tertentu yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata’ala.
Mungkin penyebab utama banyaknya penyakit adalah timbulnya kemaksiatan dan menceritakan maksiat yang telah diperbuat pada orang lain. Oleh karena itu penyakit tersebut menyebar di tengah masyarakat dan mencelakakan mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri." (Q.S asy-Syura: 30)
Di antara penyakit tersebut ada yang berupa ujian dari Allah yang ditimpahkan kepada hamba-Nya di dunia hamba tersebut merasakan penuh dengan musibah dan kesedihan, penuh dengan penyakit dan bahaya.
Ketika saya melihat orang sakit bergulat dengan rasa sakitnya dan menyaksikan orang yang membutuhkan pertolongan dengan menahan rasa perihnya, mereka telah mengetuk semua pintu dan melakukan semua sebab, namun mereka tidak menemukan pintu (hidayah) Allah subhanahu wata’ala dan sebab yang dapat menyembuhkan penyakitnya. maka saya tergerak menulis untuk semua orang yang sedang sakit, agar rasa dukanya lenyap, kesedihan, dan penyakitnya dapat terobati.
Wahai orang sakit yang kepayahan, orang yang gelisah lagi kecewa, orang yang tertimpa ujian lagi sabar! Semoga keselamatan selalu tercurah kepadamu, sebanyak kesedihan yang menimpamu. Keselamatan selalu tercurah padamu, sebanyak duka nestapa, dan rintihan yang keluar dari bibirmu.
Penyakitmu telah memutuskan hubunganmu dengan manusia, menggantikan kesehatanmu dengan penderitaan. Orang lain tertawa, sedangkan engkau menangis. Sakitmu tidak pernah reda, tidurmu tidak nyenyak, engkau berharap kesembuhan walau harus membayar dengan semua yang engkau punya.
Saudaraku yang sedang sakit! Saya tidak ingin memperparah lukamu, namun saya akan memberimu obat mujarab, dan membuatmu terlepas dari apa yang engkau derita bertahun-tahun. Obat itu terdapat pada sabda Rasulullah subhanahu wata’ala, “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Ja-mi').
Benar saudaraku, obatnya adalah sedekah dengan niat mencari kesembuhan. Mungkin engkau telah banyak bersedekah, namun tidak engkau niatkan agar Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu dari penyakit yang engkau derita. Cobalah sekarang, dan hendaknya engkau percaya bahwasanya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkanmu. Berilah makan orang fakir, atau tanggunglah beban anak yatim, atau wakafkanlah hartamu, atau keluarkanlah sedekah jariahmu. Sungguh sedekah dapat menghilangkan penyakit dan rintangan, baik berupa musibah maupun cobaan. Mereka dari golongan Allah subhanahu wata’ala yang diberi taufiq oleh Allah telah mencoba resep ini. Akhirnya mereka mendapatkan obat ruhiyyah yang lebih mujarab dari obat jasmani. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga mengobati dengan obat ruhiyyah dan obat ilahiyyah. Para Salafus Shalih juga mengeluarkan sedekah yang sepadan dengan penyakit dan musibah yang menimpa mereka. Mereka mengeluarkan harta mereka yang paling mereka cintai. Jangan kikir untuk dirimu sendiri, jika engkau memang memiliki harta dan kemudahan. Inilah kesempatannya telah datang...!!
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang penyakit yang menimpa lututnya semenjak tujuh tahun. Ia telah mengobati lututnya dengan berbagai macam obat. Ia telah bertanya pada para tabib, namun tidak menghasilkan apa-apa. Ibnul Mubarak pun berkata kepadanya, “Pergilah dan galilah sumur, karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air di dalam sumur yang engkau gali dan menahan aliran darah di lututmu. Laki-laki itu lalu menggali sumur dan ia pun sembuh”. (Kisah ini terdapat dalam Shahihut Targhib).
__________________
Reply With Quote
Wisatahati.com
View Public Profile
Visit Wisatahati.com's homepage!
Find all posts by Wisatahati.com
#4
Old 11th November 2008, 18:54
Wisatahati.com's Avatar
Wisatahati.com Wisatahati.com is offline
Registered Member
Join Date: Oct 2008
Location: Kota Tangerang
Posts: 5
Wisatahati.com is a king of Loser
Default Keistimewaan Sedekah
Seorang laki-laki pernah ditimpa penyakit kanker. Ia lalu mencari obat keliling dunia, namun ia tidak mendapatkannya. Ia kemudian bersedekah pada seorang ibu anak-anak yatim dan Allah subhanahu wata’ala pun menyembuhkannya. Kisah lain, orang yang mengalami kisah ini menceritakan kepadaku, ia berkisah, "Anak perempuan saya yang masih kecil tertimpa penyakit di tenggorokannya. Saya membawanya ke beberapa rumah sakit. Saya mengeluhkannya kepada banyak dokter, namun tidak ada hasilnya. Sakitnya tidak bisa disembuhkan. Hampir saja saya yang jatuh sakit, karena sakit anak perempuan saya yang mengundang iba semua keluarga. Akhirnya kami memberinya suntikan untuk mengurangi rasa sakit saja, hingga kami putus asa dari semuanya, kecuali dari rahmat Allah subhanahu wata’ala. Hal itu berlangsung sampai datangnya sebuah harapan dan dibukanya pintu kelapangan. Seorang Shalih menghubungi saya dan menyampaikan sebuah hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah”. (Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’) Saya berkata, "Saya telah banyak bersedekah". Ia pun menjawab, "Bersedekahlah kali ini dengan niat untuk kesembuhan anak perempuanmu". Saya pun mengeluarkan sedekah secukupnya untuk seorang fakir, namun tidak ada perubahan. Saya kemudian mengabarinya dan ia berkata, “Engkau salah seorang yang mendapatkan nikmat dan harta yang banyak. Hendaknya engkau bersedekah sesuai dengan banyaknya hartamu.” Saya pun pergi pada kesempatan ke dua. Saya penuhi isi mobil saya dengan beras, ayam, dan lainnya dengan menghabiskan biaya yang besar. Saya lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan dan mereka senang dengan sedekah saya. Demi Allah, saya tidak pernah menyangka bahwa akhir suntikan yang saya berikan pada anak saya adalah suntikan yang saya berikan sebelum saya mengeluarkan sedekah itu. Anak saya sembuh total, walhamdu lillah. Saya yakin bahwa faktor (yang menjadi sebab) paling besar yang dapat menyembuhkan penyakit adalah sedekah. Sekarang sudah berlalu tiga tahun, ia tidak merasakan penyakit apa pun. Semenjak itu saya banyak mengeluarkan sedekah khususnya untuk wakaf setiap saya merasakan nikmat, penuh berkah, dan sehat baik diri pribadi, harta, dan keluarga saya. Saya mewasiatkan pada semua orang sakit agar bersedekah dengan harta mereka yang paling mereka cintai, dan mengeluarkan sedekah terus-menerus, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan menyembuhkannya walaupun hanya sebagian penyakit. Saya yakin kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang saya ceritakan. Sungguh Allah subhanahu wata’ala tidak melalaikan balasan untuk orang yang berbuat baik.”
Kisah lainnya, diceritakan oleh pelakunya sendiri. Ia berkata, “Saudara laki-laki saya pernah pergi ke suatu tempat. Di tengah jalan, ia berhenti. Sebelumnya ia tidak pernah mengeluh sakit apa pun. Pada saat itu tiba-tiba ia jatuh pingsan, seolah-olah peluru menembus kepalanya. Kami mengira ia tertimpa al-'ain (sakit karena pengaruh mata dengki seseorang) atau kanker atau pembuluh darahnya tersendat. Kami lalu membawanya ke berbagai rumah sakit dan klinik. Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan dan rongsen. Hasilnya, kepalanya sehat-sehat saja, namun ia mengeluh sakit yang membuatnya tidak bisa berbaring. Juga tidak bisa tidur dan hal ini berlangsung lama. Bahkan jika sakitnya parah, ia tidak bisa bernafas apalagi bicara. Saya lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau mempunyai harta yang bisa kami sedekahkan. Semoga saja Allah subhanahu wata’ala menyembuhkanmu?” Ia menjawab, “Ada”. Lalu ia memberiku kartu ATM dan aku cairkan dari kartu tersebut sekitar lima ribu real. Setelah itu saya menghubungi salah seorang yang Shalih yang mengenal beberapa orang fakir, agar ia membagikan uang tersebut kepada mereka. Saya bersumpah demi Allah Yang Maha Mulia, saudara saya sembuh dari sakitnya pada hari itu juga, sebelum orang-orang fakir itu mendapatkan harta titipan tersebut. Saya benar-benar yakin bahwa sedekah mempunyai pengaruh yang besar bagi kesembuhan penyakit seseorang. Sekarang sudah berlalu satu tahun, ia sama sekali tidak mengeluhkan sakit di kepalanya lagi, alhamdulillah. Dan saya wasiatkan kepada kaum muslimin agar mengobati penyakit mereka dengan sedekah.” Berikut kisah lainnya, pelakunya sendiri yang menceritakan kisah ini. Ia berkata, “Anak perempuan saya menderita sakit demam dan panas. Ia tidak mau makan. Saya membawanya ke beberapa klinik, namun panasnya masih tinggi dan keadaannya semakin memburuk. Saya masuk rumah dengan gelisah. Saya bingung apa yang harus saya perbuat. Istri saya berkata, “Kita akan bersedekah untuknya”. Saya lalu menghubungi seseorang yang mengenal orang-orang miskin. Saya berkata padanya, “Saya harap anda datang shalat bersama saya di masjid. Ambillah dua puluh kantong beras dan dua puluh kotak ayam di tempat saya, lalu bagikanlah pada orang-orang yang membutuhkan”. Saya bersumpah demi Allah dan saya tidak melebih-lebihkan cerita. Lima menit setelah saya menutup telpon, tiba-tiba saya melihat anak saya menggerakkan kaki dan tangannya, bermain dan melompat di atas matras. Ia pun makan hingga kenyang dan sembuh total. Ini semua berkat karunia Allah subhanahu wata’ala. Saya wasiatkan semua orang untuk mengeluarkan sedekah ketika tertimpa penyakit.”
Marilah saudaraku, pintu telah terbuka, tanda kesembuhan telah tampak di depanmu. Bersedekahlah dengan sungguh-sungguh dan percayalah kepada Allah subhanahu wata’ala. Jangan seperti orang yang melalaikan resep yang mujarab ini, hingga ia tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk bersedekah lagi. Padahal bertahun-tahun ia menderita sakit dan mondar-mandir ke dokter untuk mengobati penyakitnya, dengan merogoh banyak uang dari koceknya.
Jika engkau telah mencoba resep ini dan engkau sembuh, jadilah orang yang selalu menolong orang lain dengan harta dan usahamu. Jangan engkau membatasi diri dengan sedekah untuk dirimu sendiri. Namun obatilah penyakitmu dengan sedekah. Jika engkau tidak sembuh total, ketahuilah engkau sebenarnya telah disembuhkan walau sedikit. Keluarkan sedekah lagi, perbanyak sedekah semampumu. Jika engkau masih belum sembuh, mungkin Allah subhanahu wata’ala memperpanjang sakitmu untuk sebuah hikmah yang dikehendaki-Nya atau karena kemaksiatan menghalangi kesembuhanmu. Jika demikian cepatlah bertaubat dan perbanyak do’a di sepertiga malam terakhir.
Sedangkan bagi anda yang diberi nikmat sehat oleh Allah subhanahu wata’ala, ja-ngan tinggalkan sedekah dengan alasan engkau sehat. Seperti halnya orang yang sakit dulunya juga sehat, dan orang sehat pun bisa sakit. Sebuah pepatah mengatakan, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”.
Apakah engkau akan menunggu penyakit hingga engkau berobat dengan sedekah? Jawablah...! Dan segeralah bersedekah.
Syaikh Sulaiman bin Abdul Karim al-Mufarrij.
__________________
Reply With Quote
Wisatahati.com
View Public Profile
Visit Wisatahati.com's homepage!
Find all posts by Wisatahati.com
#5
Old 12th November 2008, 08:59
Mausoleum's Avatar
Mausoleum Mausoleum is offline
Addict Member
Join Date: Jan 2008
Location: Hmm...
Posts: 447
Mausoleum is a celebrityMausoleum is a celebrity
Send a message via Yahoo to Mausoleum
Default
Waduh om...menurut ane sih, isinya lebih condong ke agama daripada psikis yah...
Tapi, terlepas dari apapun agama anda, memang benar bahwa berbuat baik--tidak terbatas pada amal saja, dapat membuat perasaan anda jauh lebih baik, lho!
Koq bisa sih?
1. Sugesti
Ajaran agama mengajarkan kita bahwa berbuat baik dan membantu sesama manusia akan memperoleh pahala. Perlahan tapi pasti, hal tersebut tertanam di benak kita. So, ketika anda menyumbangkan sedikit harta anda, atau membantu oranglain dengan tenaga anda (intinya buat baik), anda akan merasakan sensasi berupa, hati merasa plong, badan rasanya ringan, dunia terasa indah, dsb...Sensasi ini terjadi ketika anda menyadari telah berbuat baik dan tidak mengharapkan sedikitpun pamrih.
2. Senyum bisa menular
Pernah merasa susah hati? Rasanya dunia koq begitu kejam...Dan untuk para orangtua, dalam keadaan susah hati, anda melihat senyum anak anda yang masih lucu2, lugu, dan tulus...Bagaimana rasanya? Pasti rasanya sedikit dari beban anda terangkat deh...
Begitu juga dengan membantu orang lain...ketika upaya anda selesai anda lakukan, anda akan melihat senyum dan wajah yang menyiratkan rasa terima kasih...Jika anda dapat menghayatinya dengan baik, maka anda akan merasakan semangat baru, walaupun sedang susah hati!
So, tetaplah beramal tanpa pamrih!
__________________
Datang tak diundang, Pergi tak diantar
Reply With Quote
Mausoleum
View Public Profile
Send a private message to Mausoleum
Find all posts by Mausoleum
Reply
Bookmarks
* Submit Thread to del.icio.us del.icio.us
* Submit Thread to Google Google
* Submit Thread to Facebook Facebook
* Submit Thread to Twitter Twitter
«Previous Thread | Next Thread»
Thread Tools
Show Printable VersionShow Printable Version
Email this PageEmail this Page
Display Modes
Linear ModeLinear Mode
Hybrid ModeSwitch to Hybrid Mode
Threaded ModeSwitch to Threaded Mode
Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off
Forum Rules
Forum Jump
User Control PanelPrivate MessagesSubscriptionsWho's OnlineSearch ForumsForums Home Read Me First Peraturan Kritik, saran dan pertanyaan Komunitas Beranda Events & Activities DF Member Award Beranda Pictures & Videos (new!) Bahasa English Only Kerja Zona Komunitas Sekolah Universitas Profesi Bursa Jual Beli Info Penting bursa: computer, ponsel & electronic equipments bursa: computer & software bursa: notebook bursa: software & aplikasi bursa: pc desktop & aksesoris bursa: ponsel & pda cs bursa: kartu perdana & pulsa bursa: produk elektronik lainnya bursa: gadget & pernak-pernik bursa: solusi & jasa bursa: otomotif bursa: mobil bursa: motor bursa: home & property bursa: fashion bursa: lain-lain bursa: kesehatan bursa: hobi Politik & Peristiwa Politik Internasional Kebijakan Pemilihan Tokoh Partai Politik Militer Hukum Fasilitas/Pelayanan Publik Sosial Budaya Seni, Tradisi & Budaya Pendidikan Kursus Sejarah Sains Lingkungan Entertainment Online! Musik Film Televisi Gosip Intl. Celebrity Jokes Olahraga Sepakbola Liga Inggris Liga Italia Liga Spanyol Liga Indonesia Bola Dunia Liga Champions Fans Club PSSI dan Timnas Indonesia Futsal Formula 1 Moto GP Olahraga Lain Raket Basket American Football (new!) Ekonomi Finance Perbankan Asuransi Investasi Peluang Usaha Bursa Saham Belajar Saham Love and Life Love Family Friends Psikologi Lifestyle mania Fashion Tren Beauty Kesehatan Hidup Sehat Seputar Penyakit Ibu & Anak Hobi Otomotif Mobil Motor Food ( www.detikfood.com ) Buku dan Komik Tjersil Fotografi Hewan Kesayangan Traveling Hobi Lainnya Tanaman Hias Sepeda J-Corner Manga Anime/Tokusatsu Bunka Regional Jabodetabek Medan Semarang Padang Palembang Surabaya Bandung Yogyakarta Kota Lain Makassar Solo Banyumas Bali Kalimantan Malang Raya Luar Negeri Amerika Australia Jepang
All times are GMT +7. The time now is 11:50.
-- Basic Blue---- Brown-ish---- Carbon Fiber---- Green House -- English (US)-- Indonesia
Contact Us - Archive - Top
blog.kayangan.com Surganya para Jutawan(Millionare all world of the gods) Every body is AN ARchiTecT of his SUCCESS. Setiap orang adalah arsitek dari keberhasilannya sendiri.
Laman
Bisnis
Bisnis Online Syariah
www.zonabonus.comCari Uang Online SampinganAnda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
Halal dan dengan modal kecil
Senin, 09 November 2009
Minggu, 01 November 2009
Film Kun Fayakuun
Film Kun Fayakuun
mengajarkan sederhana kepada penontonnya tentang Kekuatan Do'a.
Kekuatan percaya pada Allah. Kekuatan pasrah pada Kehendak-Nya.
Dan semua itu memotivasi banyak orang.
Hari gini, banyak yang berputus asa. Atau sedikitnya, berkurang imannya kepada Allah. Banyak yang tidak percaya bahwa ia bisa berhasil. Tidaklah sedikit yang percaya bahwa nasib buruk akan menimpanya. Atau, tidak mau meyakini bahwa pertolongan Allah itu bakal datang. Sebagiannya hanya mau percaya bahwa hidupnya ya gitu-gitu aja. Ga akan ada perubahan, sbb otaknya mengatakan ia tidak mungkin berubah. Tanya saja kepada seorang pegawai yang gajinya kurang. Ia akan memandang segala kekurangannya, dan kekalahannya setiap bulan secara keuangan. Tanya juga para pedagang yang kekurangan modal. Baginya, ia bakalan punya keuntungan berlipat-lipat kalau ia bisa memiliki modal tambahan yang berlipat-lipat. Tanya pula mereka yang memiliki hutang segunung, sedangkan pekerjaan dan usaha sdh tidak ada. Apalagi kalau kemudian peluang dan kesempatan juga terasa gelap baginya. Maka, hutang itu katanya tidak akan pernah terbayarkan. Tanya pula kepada mereka yang terkena kanker, atau anggauta keluarganya ada yang kena penyakit kronis, menahun. Ia akan lihat kematian yang cepatlah jawaban yang tepat.
Kun Fayakuun, ia saya suarakan agar diri ini tidak melemah. Tidak jatuh dlm keputusasaan. Tidak larut dalam kesedihan. Dan yang lbh penting lagi, tumbuh kemudian keinginan tuk berubah, dan percaya bahwa segalanya masih mungkin, sebab tuhannya adalah Allah Yang Maha Kuasa. Kun Fayakuun.
Mohon doa atas kehamilan istri saya yang ke-empat. Mudah-mudahan doa jamaah bisa menjadi kekuatan dan keajaiban tersendiri. Kun Fayakuun.
Yusuf Mansur
Copyright © oleh Wisatahati Online All Right Reserved.
Tampilkan di: 2008-03-29 (38223 kali dibaca)
[ Kembali ]
mengajarkan sederhana kepada penontonnya tentang Kekuatan Do'a.
Kekuatan percaya pada Allah. Kekuatan pasrah pada Kehendak-Nya.
Dan semua itu memotivasi banyak orang.
Hari gini, banyak yang berputus asa. Atau sedikitnya, berkurang imannya kepada Allah. Banyak yang tidak percaya bahwa ia bisa berhasil. Tidaklah sedikit yang percaya bahwa nasib buruk akan menimpanya. Atau, tidak mau meyakini bahwa pertolongan Allah itu bakal datang. Sebagiannya hanya mau percaya bahwa hidupnya ya gitu-gitu aja. Ga akan ada perubahan, sbb otaknya mengatakan ia tidak mungkin berubah. Tanya saja kepada seorang pegawai yang gajinya kurang. Ia akan memandang segala kekurangannya, dan kekalahannya setiap bulan secara keuangan. Tanya juga para pedagang yang kekurangan modal. Baginya, ia bakalan punya keuntungan berlipat-lipat kalau ia bisa memiliki modal tambahan yang berlipat-lipat. Tanya pula mereka yang memiliki hutang segunung, sedangkan pekerjaan dan usaha sdh tidak ada. Apalagi kalau kemudian peluang dan kesempatan juga terasa gelap baginya. Maka, hutang itu katanya tidak akan pernah terbayarkan. Tanya pula kepada mereka yang terkena kanker, atau anggauta keluarganya ada yang kena penyakit kronis, menahun. Ia akan lihat kematian yang cepatlah jawaban yang tepat.
Kun Fayakuun, ia saya suarakan agar diri ini tidak melemah. Tidak jatuh dlm keputusasaan. Tidak larut dalam kesedihan. Dan yang lbh penting lagi, tumbuh kemudian keinginan tuk berubah, dan percaya bahwa segalanya masih mungkin, sebab tuhannya adalah Allah Yang Maha Kuasa. Kun Fayakuun.
Mohon doa atas kehamilan istri saya yang ke-empat. Mudah-mudahan doa jamaah bisa menjadi kekuatan dan keajaiban tersendiri. Kun Fayakuun.
Yusuf Mansur
Copyright © oleh Wisatahati Online All Right Reserved.
Tampilkan di: 2008-03-29 (38223 kali dibaca)
[ Kembali ]
Iman dan Hasasiyah Ijtimaiyyah
"Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu sekalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara." (QS. Ali Imran: 103)
*
Iman dan Hasasiyah Ijtimaiyyah
Shibghah (celupan) Imaniah
Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal shaleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah SWT [...]
30/10/2009 | 11 Dhul-Qadah 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Kepada para Pelajar; Selamat Menempuh Tahun Pelajaran Baru
Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 01-10-2009
Penerjemah:
Abu Ahmad
________
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas Rasulullah saw al-amin, selanjutnya..
Para pelajar; pembuat scenario kebangkitan dan peradaban.
Sungguh Allah telah menuliskan bahwa umat ini tidak akan mampu menang dan ideologi Islam tidak akan mampu menyebar ke seluruh pelosok negeri kecuali berada [...]
13/10/2009 | 23 Shawwal 1430 H | Rubrik: Risalah Mursyid | Komentar |
Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (9) Risalah Umum Dalam Kitab Allah (3) Risalah Musa AS
3. RISALAH MUSA AS.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Amma ba’du.
Kita membuka acara kita dengan pembukaan [...]
5/10/2009 | 15 Shawwal 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Risalah dari Mursyid Am Kepada Seluruh Umat Islam Berkaitan Dengan Hadirnya Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah
Risalah dari Mursyid Am Kepada seluruh Umat Islam berkaitan dengan datangnya Bulan Ramadhan yang penuh berkah, 03-09-2009
Mursyid Am memberikan ceramah saat menghadiri acara Ifthar Jama’I ikhwanul Muslimin
Wahai Ikhwanul Muslimin…
Saya sampaikan tahiyah yang membawa berkah dan kebaikan…
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah yang maha Luas ampunan-Nya dan berlimpah kebaikan-Nya, salawat dan salam semoga tercurah pada [...]
29/9/2009 | 9 Shawwal 1430 H | Rubrik: Risalah Mursyid | Komentar |
Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (9) Risalah Umum Dalam Kitab Allah (1) Risalah Nuh AS
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Assalamu ‘alaikum iva rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan yang mulia….
Tema pembicaraan kita pada malam hari ini adalah risalah-risalah umum dalam kitab Allah swt. Tema ini merupakan
serial yang [...]
15/9/2009 | 25 Ramadhan 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Komitmen Seorang Muslim Terhadap Harakah Islam (1) Hidup Untuk Islam.
Seorang Muslim hendaknya memiliki komitmen terhadap harakah Islam, agar dirinya dapat memahami sampai dimana posisi dirinya dalam berislam dan mengikuti serta mengamalkan Islam yang dianutnya, dan dalam memahami hakikat ini akan kita bagi pada beberapa segmentasi berikut:
1. Saya Mesti Hidup Untuk Islam.
2. Saya Mesti Beriman Bahwa Beramal Untuk Islam Adalah Wajib.
3. Tanggungjawab, Ciri-ciri dan macam-macam [...]
7/9/2009 | 17 Ramadhan 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Agenda Harian Ramadhan menuju bahagia di bulan Ramadhan
Satu hari di bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Oleh karena itu, agenda yang kita maksud di sini adalah merupakan rangkaian kegiatan yang runut selama dua puluh jam, di mulai dari waktu Subuh hingga waktu Sahur hari berikutnya.
1. Agenda Setelah Terbit Fajar
a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh
” الَّلهُمَّ [...]
13/8/2009 | 21 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Segmentasi Dalam Aspek-aspek Dakwah (3) Antara Kaya dan Miskin
Ada banyak hadits yang menjelaskan kepada kita tentang keutamaan kekayaan dan harta yang banyak dibandingkan dengan kemiskinan, dengan syarat tentunya jika kekayaan tersebut didapat sepenuhnya dari harta yang halal, dan dimanfaatkan sepenuhnya demi menggapai keridhaan SWT semata.
Diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits tentang keutamaan berzakat, keutamaan sedekah, keutamaan memberi hadiah, keutamaan membantu orang yang [...]
12/8/2009 | 20 Shaban 1430 H | Rubrik: Risalah Nukhbawiyah | Komentar |
Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman
Ustadz KH Rahmat Abdullah (Allahu yarham)
Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, [...]
10/8/2009 | 18 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Komitmen Seorang Muslim Pada Sisi Aqidah
Ketika seorang muslim mengakui dirinya sebagai muslim, dan menjadikan agama Islam sebagai agama yang murn bukan sekedar warisan, bukan sebagai hobi dan bukan secara zhahir saja. Maka yang dituntut darinya adalah berpegang teguh dengan seluruh ajaran Islam serta menyesuaikan diri dengan Islam di segenap bidang kehidupan dengan penuh kerelaan dan ketundukan. Dan pada selanjutnya [...]
24/7/2009 | 2 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Halaman Berikutnya »
* Terbaru
* Populer
* Komentar
* Pemerintah… Antara Peran y…
* Iman dan Hasasiyah Ijtimaiyyah
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Al-Quds dan Al-Aqsha; Di ten…
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Wasiat Hasan Al-Banna; Jika …
* Imam Al-Banna Menyeru Melaku…
* Al-Quds dan Al-Aqsha… dan …
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Kepada para Pelajar; Selamat…
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Khutbah Munasharah Al-Aqsha
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Eid Yang Dinantikan Umat; Sa…
* Ramadhan; Kembali Kepada Nil…
* Qadhiyah Palestina Berada di…
* Wahai HAMAS, Teruslah Tsabat…
* Tentara Zionis: Kami Menyaks…
* HAMAS, Ketika Sejarah dan Le…
* Abbas Assisi, Dai Penuh Cint…
* Mengenal Para Mursyid Am Ikh…
* Apakah Kita Aktivis Dakwah?
* Kepada Apa Kami Menyeru Manu…
* Qadhiyah Palestina dan Keama…
* Berita Terkini dari Gaza
* Imam Hassan Al-Banna di Mata…
* Sentuhan-sentuhan Tarbiyah: …
* Peran Media Komunikasi Moder…
* Risalah Dakwah Ikhwan
* Al-Qur’an dan IPTEK (2): S…
* aizad:
boleh sy copy pste ...
* ahmad rifai:
buat saya ini berita bagus bag ...
* uty:
bacalah... ...
* Wida:
I love him very much... your s ...
* Agung:
Assalamu'alaikum wr.wb. Alhamd ...
* Ayya Muhammad:
Subhanallah... Allahu Akbar... ...
* Rahmad:
jangan pernah menyerah wahai s ...
Links Khusus
* Links Situs IslamDaftar situs Islam dan situs yang bagus. Mudah-mudahan bermanfaat.
* Feed al-ikhwan.netDapatkan RSS/Feed 2.0 situs al-ikhwan.net
* Feed seluruh komentarRSS/Feed 2.0 seluruh komentar di al-ikhwan.net
* Langganan via emailDapatkan info naskah terbaru via e-mail Anda
Cari Arsip
Cari dengan Google
Komentar Pembaca
* aizad: boleh sy copy pste
* ahmad rifai: buat saya ini berita bagus bagi negar yang sedang ditindasnya...
* uty: bacalah…
Buku dan Tokoh Ikhwan
Tentang Al-Ikhwan.net
Ahlan wa sahlan fii al-ikhwan.net, sebuah situs yang merefleksikan pemikiran-pemikiran gerakan dakwah Islam modern, Gerakan Ikhwanul Muslimin. Situs ini bertujuan memberikan informasi dan pemahaman Islam yang benar dan syamil mutakamil seperti yang dipahami Rasulullah saw. dan para sahabat serta para aktivis Ikhwanul Muslimin.
Situs ini menyajikan tujuh rubrik utama, yaitu Akhbar Ikhwan, Risalah Mursyid, Risalah Nukhbawiyah, Min Kutubil Ikhwan, Tokoh Ikhwan, Tsaqafah Islamiyah dan Raddus Syubuhat. Selengkapnya »
Al-Ikhwan.net - Right to copy :: 2005 - 2008 :: Powered by Wordpress :: Tidak dilarang untuk mengcopy dan menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya :: Daftar - Masuk log
Loading...
*
Iman dan Hasasiyah Ijtimaiyyah
Shibghah (celupan) Imaniah
Iman itu bukan hiasan bibir dan pemanis kata apalagi sekedar keyakinan hampa. Tapi sebuah keyakinan yang menghunjam dalam hati, diungkapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan tindak nyata. Pengakuan seorang mukmin akan keimanannya yang tidak disertai dengan bukti amal shaleh, bisa dikategorikan sebagai pengakuan tanpa makna dan tidak berdasar. Di sini Allah SWT [...]
30/10/2009 | 11 Dhul-Qadah 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Kepada para Pelajar; Selamat Menempuh Tahun Pelajaran Baru
Risalah dari Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 01-10-2009
Penerjemah:
Abu Ahmad
________
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas Rasulullah saw al-amin, selanjutnya..
Para pelajar; pembuat scenario kebangkitan dan peradaban.
Sungguh Allah telah menuliskan bahwa umat ini tidak akan mampu menang dan ideologi Islam tidak akan mampu menyebar ke seluruh pelosok negeri kecuali berada [...]
13/10/2009 | 23 Shawwal 1430 H | Rubrik: Risalah Mursyid | Komentar |
Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (9) Risalah Umum Dalam Kitab Allah (3) Risalah Musa AS
3. RISALAH MUSA AS.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Amma ba’du.
Kita membuka acara kita dengan pembukaan [...]
5/10/2009 | 15 Shawwal 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Risalah dari Mursyid Am Kepada Seluruh Umat Islam Berkaitan Dengan Hadirnya Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah
Risalah dari Mursyid Am Kepada seluruh Umat Islam berkaitan dengan datangnya Bulan Ramadhan yang penuh berkah, 03-09-2009
Mursyid Am memberikan ceramah saat menghadiri acara Ifthar Jama’I ikhwanul Muslimin
Wahai Ikhwanul Muslimin…
Saya sampaikan tahiyah yang membawa berkah dan kebaikan…
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Segala puji hanya milik Allah yang maha Luas ampunan-Nya dan berlimpah kebaikan-Nya, salawat dan salam semoga tercurah pada [...]
29/9/2009 | 9 Shawwal 1430 H | Rubrik: Risalah Mursyid | Komentar |
Al-Qur’an Menurut Hasan Al-Banna (9) Risalah Umum Dalam Kitab Allah (1) Risalah Nuh AS
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Assalamu ‘alaikum iva rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan yang mulia….
Tema pembicaraan kita pada malam hari ini adalah risalah-risalah umum dalam kitab Allah swt. Tema ini merupakan
serial yang [...]
15/9/2009 | 25 Ramadhan 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Komitmen Seorang Muslim Terhadap Harakah Islam (1) Hidup Untuk Islam.
Seorang Muslim hendaknya memiliki komitmen terhadap harakah Islam, agar dirinya dapat memahami sampai dimana posisi dirinya dalam berislam dan mengikuti serta mengamalkan Islam yang dianutnya, dan dalam memahami hakikat ini akan kita bagi pada beberapa segmentasi berikut:
1. Saya Mesti Hidup Untuk Islam.
2. Saya Mesti Beriman Bahwa Beramal Untuk Islam Adalah Wajib.
3. Tanggungjawab, Ciri-ciri dan macam-macam [...]
7/9/2009 | 17 Ramadhan 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Agenda Harian Ramadhan menuju bahagia di bulan Ramadhan
Satu hari di bulan Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Oleh karena itu, agenda yang kita maksud di sini adalah merupakan rangkaian kegiatan yang runut selama dua puluh jam, di mulai dari waktu Subuh hingga waktu Sahur hari berikutnya.
1. Agenda Setelah Terbit Fajar
a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh
” الَّلهُمَّ [...]
13/8/2009 | 21 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Segmentasi Dalam Aspek-aspek Dakwah (3) Antara Kaya dan Miskin
Ada banyak hadits yang menjelaskan kepada kita tentang keutamaan kekayaan dan harta yang banyak dibandingkan dengan kemiskinan, dengan syarat tentunya jika kekayaan tersebut didapat sepenuhnya dari harta yang halal, dan dimanfaatkan sepenuhnya demi menggapai keridhaan SWT semata.
Diantara hadits-hadits tersebut adalah hadits tentang keutamaan berzakat, keutamaan sedekah, keutamaan memberi hadiah, keutamaan membantu orang yang [...]
12/8/2009 | 20 Shaban 1430 H | Rubrik: Risalah Nukhbawiyah | Komentar |
Bulan Ramadlan : Stasiun Besar Musafir Iman
Ustadz KH Rahmat Abdullah (Allahu yarham)
Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan maksimum, angin pun berhembus. Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, [...]
10/8/2009 | 18 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Komitmen Seorang Muslim Pada Sisi Aqidah
Ketika seorang muslim mengakui dirinya sebagai muslim, dan menjadikan agama Islam sebagai agama yang murn bukan sekedar warisan, bukan sebagai hobi dan bukan secara zhahir saja. Maka yang dituntut darinya adalah berpegang teguh dengan seluruh ajaran Islam serta menyesuaikan diri dengan Islam di segenap bidang kehidupan dengan penuh kerelaan dan ketundukan. Dan pada selanjutnya [...]
24/7/2009 | 2 Shaban 1430 H | Rubrik: Tsaqafah Islamiyah | Komentar |
Halaman Berikutnya »
* Terbaru
* Populer
* Komentar
* Pemerintah… Antara Peran y…
* Iman dan Hasasiyah Ijtimaiyyah
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Al-Quds dan Al-Aqsha; Di ten…
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Wasiat Hasan Al-Banna; Jika …
* Imam Al-Banna Menyeru Melaku…
* Al-Quds dan Al-Aqsha… dan …
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Kepada para Pelajar; Selamat…
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Khutbah Munasharah Al-Aqsha
* Al-Qur’an Menurut Hasan Al…
* Eid Yang Dinantikan Umat; Sa…
* Ramadhan; Kembali Kepada Nil…
* Qadhiyah Palestina Berada di…
* Wahai HAMAS, Teruslah Tsabat…
* Tentara Zionis: Kami Menyaks…
* HAMAS, Ketika Sejarah dan Le…
* Abbas Assisi, Dai Penuh Cint…
* Mengenal Para Mursyid Am Ikh…
* Apakah Kita Aktivis Dakwah?
* Kepada Apa Kami Menyeru Manu…
* Qadhiyah Palestina dan Keama…
* Berita Terkini dari Gaza
* Imam Hassan Al-Banna di Mata…
* Sentuhan-sentuhan Tarbiyah: …
* Peran Media Komunikasi Moder…
* Risalah Dakwah Ikhwan
* Al-Qur’an dan IPTEK (2): S…
* aizad:
boleh sy copy pste ...
* ahmad rifai:
buat saya ini berita bagus bag ...
* uty:
bacalah... ...
* Wida:
I love him very much... your s ...
* Agung:
Assalamu'alaikum wr.wb. Alhamd ...
* Ayya Muhammad:
Subhanallah... Allahu Akbar... ...
* Rahmad:
jangan pernah menyerah wahai s ...
Links Khusus
* Links Situs IslamDaftar situs Islam dan situs yang bagus. Mudah-mudahan bermanfaat.
* Feed al-ikhwan.netDapatkan RSS/Feed 2.0 situs al-ikhwan.net
* Feed seluruh komentarRSS/Feed 2.0 seluruh komentar di al-ikhwan.net
* Langganan via emailDapatkan info naskah terbaru via e-mail Anda
Cari Arsip
Cari dengan Google
Komentar Pembaca
* aizad: boleh sy copy pste
* ahmad rifai: buat saya ini berita bagus bagi negar yang sedang ditindasnya...
* uty: bacalah…
Buku dan Tokoh Ikhwan
Tentang Al-Ikhwan.net
Ahlan wa sahlan fii al-ikhwan.net, sebuah situs yang merefleksikan pemikiran-pemikiran gerakan dakwah Islam modern, Gerakan Ikhwanul Muslimin. Situs ini bertujuan memberikan informasi dan pemahaman Islam yang benar dan syamil mutakamil seperti yang dipahami Rasulullah saw. dan para sahabat serta para aktivis Ikhwanul Muslimin.
Situs ini menyajikan tujuh rubrik utama, yaitu Akhbar Ikhwan, Risalah Mursyid, Risalah Nukhbawiyah, Min Kutubil Ikhwan, Tokoh Ikhwan, Tsaqafah Islamiyah dan Raddus Syubuhat. Selengkapnya »
Al-Ikhwan.net - Right to copy :: 2005 - 2008 :: Powered by Wordpress :: Tidak dilarang untuk mengcopy dan menyebarkan artikel pada situs ini dengan menyebutkan URL sumbernya :: Daftar - Masuk log
Loading...
Keistimewaan Al-Qur’an
Keistimewaan Al-Qur’an
* Written by QuranPoin
* Posted July 3, 2009 at 12:01 am
Al-Qur’an memiliki keistimewaan-keistimewaan yang membedakan dengan kitab-kitab sebelumnya diantaranya ialah:
* Al-Qur’an merupakan kitab yang syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah:48 “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.
Pada ayat di atas disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari al-Qur’an, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja.
Dijelaskan pula bahwa setiap umat oleh Allah swt. diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah berfirman dalam surat as-Syura:13
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”
* Ajaran-ajaran yang termuat dalam al-Qur’an adalah kalam Allah yang terakhir untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah kitab al-Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.Allah berfirman dalam surat fusshilat:41-42“Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.Dan juga firman-Nya dalam surat al-Hijr:9“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”Adapun tujuan menjaga dan melindungi al-Qur’an dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah swt dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya.
* Kitab Suci al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah akan kekekalannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat al-Qur’an Sebabnya tidak lain karena al-Qur’an adalah firman Allah swt, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan ciptaan Allah swt pula. Dapat dipastikan bahwa firman dan amal perbuatan Allah tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain.
* Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri.Firman Allah dalam surat Fushilat:53“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
* Allah swt. berkehendak supaya kalimat-Nya disiarkan dan disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu al-Qur’an sengaja diturunkan oleh Allah swt dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapapun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.
Ditulis oleh : Ustadz Muhalimin Mahir, MA
* Written by QuranPoin
* Posted July 3, 2009 at 12:01 am
Al-Qur’an memiliki keistimewaan-keistimewaan yang membedakan dengan kitab-kitab sebelumnya diantaranya ialah:
* Al-Qur’an merupakan kitab yang syamil yang mencakup seluruh ajaran Tuhan yang ada pada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya (Taurat, Injil, dan Zabur) dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Maidah:48 “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap Kitab-Kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”.
Pada ayat di atas disebutkan bahwa Allah swt memerintahkan kepada nabi supaya dalam memutuskan segala persoalan yang timbul di antara seluruh umat manusia ini dengan menggunakan hukum dari al-Qur’an, baik orang-orang yang beragama Islam atau pun golongan ahlul kitab (kaum Nasrani dan Yahudi) dan jangan sampai mengikuti hawa nafsu mereka sendiri saja.
Dijelaskan pula bahwa setiap umat oleh Allah swt. diberikan syariat dan jalan dalam hukum-hukum amaliah yang sesuai dengan persiapan serta kemampuan mereka. Adapun yang berhubungan dengan persoalan akidah, ibadah, adab, sopan santun serta halal dan haram, juga yang ada hubungannya dengan sesuatu yang tidak akan berbeda karena perubahan masa dan tempat, maka semuanya dijadikan seragam dan hanya satu macam, sebagaimana yang tertera dalam agama-agama lain yang bersumber dari wahyu Allah swt. Allah berfirman dalam surat as-Syura:13
“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”
* Ajaran-ajaran yang termuat dalam al-Qur’an adalah kalam Allah yang terakhir untuk memberikan petunjuk dan bimbingan yang benar kepada umat manusia, inilah yang dikehendaki oleh Allah supaya tetap sepanjang masa, kekal untuk selama-lamanya. Maka dari itu jagalah kitab al-Quran agar tidak dikotori oleh tangan-tangan yang hendak mengotori kesuciannya, hendak mengubah kemurniannya, hendak mengganti isi yang sebenarnya atau pun hendak menyusupkan sesuatu dari luar atau mengurangi kelengkapannya.Allah berfirman dalam surat fusshilat:41-42“Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”.Dan juga firman-Nya dalam surat al-Hijr:9“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”Adapun tujuan menjaga dan melindungi al-Qur’an dari kebatilan, kepalsuan dan pengubahan tidak lain hanya agar supaya hujah Allah akan tetap tegak di hadapan seluruh manusia, sehingga Allah swt dapat mewarisi bumi ini dan siapa yang ada di atas permukaannya.
* Kitab Suci al-Qur’an yang dikehendaki oleh Allah akan kekekalannya, tidak mungkin pada suatu hari nanti akan terjadi bahwa suatu ilmu pengetahuan akan mencapai titik hakikat yang bertentangan dengan hakikat yang tercantum di dalam ayat al-Qur’an Sebabnya tidak lain karena al-Qur’an adalah firman Allah swt, sedang keadaan yang terjadi di dalam alam semesta ini semuanya merupakan ciptaan Allah swt pula. Dapat dipastikan bahwa firman dan amal perbuatan Allah tidak mungkin bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Bahkan yang dapat terjadi ialah bahwa yang satu akan membenarkan yang lain.
* Dari sudut inilah, maka kita menyaksikan sendiri betapa banyaknya kebenaran yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern ternyata sesuai dan cocok dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an. Jadi apa yang ditemukan adalah memperkokoh dan merealisir kebenaran dari apa yang sudah difirmankan oleh Allah swt. sendiri.Firman Allah dalam surat Fushilat:53“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakkah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
* Allah swt. berkehendak supaya kalimat-Nya disiarkan dan disampaikan kepada semua akal pikiran dan pendengaran, sehingga menjadi suatu kenyataan dan perbuatan. Kehendak semacam ini tidak mungkin berhasil, kecuali jika kalimat-kalimat itu sendiri benar-benar mudah diingat, dihafal serta dipahami. Oleh karena itu al-Qur’an sengaja diturunkan oleh Allah swt dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sukar bagi siapapun untuk memahaminya dan tidak sukar pula mengamalkannya, asal disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.
Ditulis oleh : Ustadz Muhalimin Mahir, MA
Zuhud
muslim.or.id
Kategori: Tazkiyatun Nufus
Kata zuhud sering disebut-sebut ketika kita mendengar nasehat dan seruan agar mengekang ketamakan terhadap dunia dan mengejar kenikmatannya yang fana dan pasti sirna, dan agar jangan melupakan kehidupan akhirat yang hakiki setelah kematian. Hal ini sebagaimana peringatan Allah tentang kehidupan dunia yang penuh dengan fatamorgana dan berbagai keindahan yang melalaikan dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Allah berfirman,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, batil, dan sekadar permainan. Yang dimaksud sekadar permainan adalah sesuatu yang tiada bermanfaat dan melalaikan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa dunia adalah perhiasan, dan orang-orang yang terfitnah dengan dunia menjadikannya sebagai perhiasannya dan tempat untuk saling bermegah-megahan dengan kenikmatan yang ada padanya berupa anak-anak, harta-benda, kedudukan dan yang lainnya sehingga lalai dan tidak beramal untuk akhiratnya.
Allah menyerupakan kehancuran dunia dan kefanaannya yang begitu cepat dengan hujan yang turun ke permukaan bumi. Ia menumbuhkan tanaman yang menghijau lalu kemudian berubah menjadi layu, kering dan pada akhirnya mati. Demikianlah kenikmatan dunia, yang pasti pada saatnya akan punah dan binasa. Maka barangsiapa mengambil pelajaran dari permisalan yang disebutkan di atas, akan mengetahui bahwa dunia ibarat es yang semakin lama semakin mencair dan pada akhirnya akan hilang dan sirna. Sedangkan segala apa yang ada di sisi Allah adalah lebih kekal, dan akhirat itu lebih baik dan utama sebagaimana lebih indah dan kekalnya permata dibandingkan dengan es. Apabila seseorang mengetahui dengan yakin akan perbedaan antara dunia dan akhirat dan dapat membandingkan keduanya, maka akan timbul tekad yang kuat untuk menggapai kebahagian dunia akhirat.
Definisi Zuhud
Banyak sekali penjelasan ulama tentang makna zuhud. Umumnya mengarah kepada makna yang hampir sama. Di sini akan disampaikan sebagian dari pendapat tersebut.
Makna secara bahasa:
Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.
Makna secara istilah:
Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.
Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.
Di sini zuhud ditafsirkan dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati:
1. Bagi seorang hamba yang zuhud, apa yang ada di sisi Allah lebih dia percayai daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?” Beliau menjawab, “Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?” Beliau menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”
2. Apabila terkena musibah, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karenanya daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.
3. Baginya orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran adalah sama saja. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.
Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.
Tingkatan Zuhud
Ada beberapa tingkatan zuhud sesuai dengan keadaan setiap orang yang melakukannya, yaitu:
1. Berusaha untuk hidup zuhud di dunia; sementara ia menghendaki (dunia tersebut), hati condong kepadanya dan selalu menoleh ke arahnya, akan tetapi ia berusaha melawan dan mencegahnya.
2. Orang yang meninggalkan dunia dengan suka rela, karena di matanya dunia itu rendah dan hina, meskipun ada kecenderungan kepadanya. Dan ia meninggalkan dunia tersebut (untuk akhirat), bagaikan orang yang meninggalkan uang satu dirham untuk mendapatkan uang dua dirham (maksudnya balasan akhirat itu lebih besar daripada balasan dunia).
3. Orang yang zuhud dan meninggalkan dunia dengan hati yang lapang. Ia tidak melihat bahwa dirinya meninggalkan sesuatu apapun. Orang seperti ini bagaikan seseorang yang hendak masuk ke istana raja, terhalangi oleh anjing yang menjaga pintu, lalu ia melemparkan sepotong roti ke arah anjing tersebut sehingga membuat anjing tersebut sibuk (dengan roti tadi), dan ia pun dapat masuk (ke istana) untuk menemui sang Raja dan mendapatkan kedekatan darinya. Anjing di sini diumpamakan sebagai syaitan yang berdiri di depan pintu (kerajaan/surga) Allah, yang menghalangi manusia untuk masuk ke dalamnya, sementara pintu tersebut dalam keadaan terbuka. Adapun roti diumpamakan sebagai dunia, maka barangsiapa meninggalkannya niscaya akan memperoleh kedekatan dari Allah.
Hal-Hal yang Mendorong untuk Hidup Zuhud
1. Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana.
2. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh, sebagaimana firman Allah,
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur: 6)
Perasaan seperti ini akan mendorong seorang hamba untuk hidup zuhud.
3. Dunia hanya akan didapatkan dengan susah payah dan kerja keras, mengorbankan tenaga dan pikiran yang sangat banyak, dan kadang-kadang terpaksa harus bergaul dengan orang-orang yang berperangai jahat dan buruk. Berbeda halnya jika menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah; jiwa menjadi tentram dan hati merasa sejuk, menerima takdir Allah dengan tulus dan sabar, ditambah akan menerima balasan di akhirat. Dua hal di atas jelas berbeda dan (setiap orang) tentu akan memilih yang lebih baik dan kekal.
4. Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan dunia serta kenikmatannya yang menipu (manusia). Dunia hanyalah tipu daya, permainaan dan kesia-siaan belaka. Allah mencela orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang fana ini daripada kehidupan akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)
Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman,
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 16-17)
Semua dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah, mendorong seorang yang beriman untuk tidak terlalu bergantung kepada dunia dan lebih mengharapkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.
Zuhud yang Bermanfaat dan Sesuai Dengan Syariat
Zuhud yang disyariatkan dan bermanfaat bagi orang yang menjalaninya adalah zuhud yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat demi menggapai kehidupan akhirat. Adapun sesuatu yang memberi manfaat bagi kehidupan akhirat dan membantu untuk menggapainya, maka termasuk salah satu jenis ibadah dan ketaatan. Sehingga berpaling dari sesuatu yang bermanfaat merupakan kejahilan dan kesesatan sebagaimana sabda Nabi,
“Carilah apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim hadits no. 4816)
Yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Dan semua yang menghalangi hal ini adalah perkara yang mendatangkan kemudharatan dan tidak bermanfaat. Yang paling berguna bagi seorang hamba adalah mengikhlaskan seluruh amalnya karena Allah. Orang yang tidak memperhatikan segala yang dicintai dan dibenci oleh Allah dan rasul-Nya akan banyak menyia-nyiakan kewajiban dan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan; meninggalkan sesuatu yang merupakan kebutuhannya seperti makan dan minum; memakan sesuatu yang dapat merusak akalnya sehingga tidak mampu menjalankan kewajiban; meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar; meningalkan jihad di jalan Allah karena dianggap mengganggu dan merugikan orang lain. Pada akhirnya, orang-orang kafir dan orang-orang jahat mampu menguasai negeri mereka dikarenakan meninggalkan jihad dan amar ma’ruf -tanpa ada maslahat yang nyata-.
Allah berfirman,
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.’” (QS. Al-Baqarah: 217)
Allah menjelaskan dalam ayat ini, walaupun membunuh jiwa itu merupakan keburukan, akan tetapi fitnah yang ditimbulkan oleh kekufuran, kezaliman dan berkuasanya mereka (orang-orang kafir) lebih berbahaya dari membunuh jiwa. Sehingga menghindari keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan adalah lebih diutamakan. Seumpama orang yang tidak mau menyembelih hewan dengan dalih bahwa perbuatan tersebut termasuk aniaya terhadap hewan. Orang seperti ini adalah jahil, karena hewan tersebut pasti akan mati. Disembelihnya hewan tersebut untuk kepentingan manusia adalah lebih baik daripada mati tanpa mendatangkan manfaat bagi seorang pun. Manusia lebih sempurna dari hewan, dan suatu kebaikan tidak mungkin bisa sempurna untuk manusia kecuali dengan memanfaatkannya, baik untuk dimakan, dijadikan sebagai kendaraan atau yang lainya. Yang dilarang oleh Nabi adalah menyiksanya dan tidak menunaikan hak-haknya yang telah tetapkan oleh Allah.
Nabi bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu, maka jikalau kalian membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim hadits no. 3615)
Zuhud yang Bid’ah dan Menyelisihi Syari’at
Zuhud yang menyelisihi Sunnah tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Karena ia menganiaya hati dan membutakannya, membuat agama menjadi buruk dan hilang nilai-nilai kebaikannya yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, menjauhkan manusia dari agama Allah, menghancurkan peradaban, dan memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka; merendahkan kemuliaan seseorang serta menjadikan seorang hamba menyembah kepada selain Allah. Berikut ini beberapa perkataan para penyeru zuhud yang menyelisihi petunjuk Nabi.
Perkataan Junaid, salah seorang penyeru zuhud yang menyelisihi syariat, “Saya senang kalau seorang pemula dalam kezuhudan tidak menyibukkan diri dengan tiga perkara agar tidak berubah keadaannya, yaitu bekerja untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu hadist, dan menikah. Dan lebih aku senangi jika seorang sufi tidak membaca dan menulis agar niatnya lebih terarah.” (Kitab Quatul-Qulub 3/135, kitab karya Junaid).
Perkataan Abu Sulaiman ad-Darani, “Jika seseorang telah menuntut ilmu, pergi mencari rezeki atau menikah, maka dia telah bersandar kepada dunia.” (Kitab Al-Futuhat Al-Makiyah, 1/37).
Padahal telah dimaklumi bahwa semua peradaban di dunia ini tidak mungkin tegak dan berkembang kecuali dengan tiga perkara, yaitu dengan bekerja, mencari ilmu, dan menikah demi meneruskan keturunan manusia. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kita bekerja mencari rezeki sebagaimana dalam sabda beliau,
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Bukhari, III/8 hadits no. 1930)
Dan Rasulullah telah memerintahkan umatnya untuk menikah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (lahir dan batin) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Sedangkan untuk yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat menjaganya (yaitu benteng nafsu).” (HR. Bukhari, VI/117)
Beliau juga memerintahkan kaum muslimin menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, sebagaimana sabdanya,
“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (Ibnu Majah hadits no. 220. Hadist Sahih, lihat Kitab Al-Jami’ As-Shahih no. 3808 karya Al-Bani)
Wajib di sini adalah dalam menuntut ilmu agama. Adapun ilmu duniawi, tidak ada seorang pun yang berselisih tentang pentingnya ilmu tersebut, baik berupa ilmu kesehatan, ilmu perencanaan maupun ilmu lainnya yang manusia tidak mungkin terlepas darinya. Terpuruknya kaum muslimin ke dalam jurang kehinaan dan kemunduran pada masa sekarang ini tidak lain akibat kelalaian mereka dalam menuntut ilmu agama yang benar, merasa cukup dengan ilmu duniawi yang mereka ambil dari musuh-musuh mereka dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik yang besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, yang semuanya berujung kepada kebinasaan, hilangnya agama, akhlak, dan hal-hal utama lainnya.
Khatimah
Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita lihat bagaimana kehidupan generasi pertama dan terbaik dari umat ini, generasi sahabat yang hidup di bawah naungan wahyu Ilahi dan didikan Nabi. Salah seorang tokoh generasi tabi’in, Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Aku telah menjumpai suatu kaum dan berteman dengan mereka. Tidaklah mereka itu merasa gembira karena sesuatu yang mereka dapatkan dari perkara dunia, juga tidak bersedih dengan hilangnya sesuatu itu. Dunia di mata mereka lebih hina daripada tanah. Salah seorang di antara mereka hidup satu atau dua tahun dengan baju yang tidak pernah terlipat, tidak pernah meletakkan panci di atas perapian, tidak pernah meletakkan sesuatu antara badan mereka dengan tanah (beralas) dan tidak pernah memerintahkan orang lain membuatkan makanan untuk mereka. Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, meletakkan wajah-wajah mereka dalam sujud dengan air mata bercucuran di pipi-pipi mereka dan bermunajat kepada Allah agar melepaskan diri mereka dari perbudakan dunia. Ketika beramal kebaikan, mereka bersungguh-sungguh dengan memohon kepada Allah untuk menerimanya. Apabila berbuat keburukan, mereka bersedih dan bersegera meminta ampunan kepada Allah. Mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Demi Allah, tidaklah mereka itu selamat dari dosa kecuali dengan ampunan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada mereka.” Wallahu A’lam.
Referensi:
1. Qawaid wa Fawaid min Al-Arbaina An-Nawawiyah, karya Nazim Mohammad Sulthan ; cet. Ke-2. 1410; Dar-Alhijrah, Riyadh, KSA.
2. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
3. Tazkiyatun-Nufus, karya Doktor Ahmad Farid ; Dar- Alqalam, Bairut, Libanon.
4. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
***
Penulis: Ustadz Abu Husam Muhammad Nur Huda
Dipublish ulang oleh muslim.or.id dari Majalah FATAWA
9 komentar | Sebarkan di Facebook| Kirim ke Teman
Artikel Sebelumnya:
Info Paket Belajar Bahasa Arab Dasar Dari NOL
Artikel Selanjutnya:
Launching dan Bedah Buku: Panduan Amal Sehari Semalam (Yogyakarta, 23 Mei 2009)
Kirim Komentar
Click here to cancel reply.
Nama (wajib diisi)
Email (wajib diisi)
Website
Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.
Komentar:
9 Komentar
*
amir May 7, 2009, 23:22
HADIRILAH KAJIAN SPESIAL
Tema:
KULIAH, KERJA DAN NIKAH (KKN)
Bersama:
Al-Ustadz JAUHAR, Lc.
(Pengajar Ma’had Imam Bukhori, Solo)
Hari/ Tanggal:
Sabtu, 9 Mei 2009
Waktu:
Pukul 09.00 WIB s.d. Selesai
Tempat:
Masjid An-Nur, SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, Solo
Informasi:
085725154393
Penyelenggara:
Majelis Kerohanian Islam (MKI) SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen
*
wong dheso May 8, 2009, 2:36
Ini harus benar-benar di praktekkan karena amalan generasi awal
*
abu ashma' May 8, 2009, 21:25
Bagus sekali artikelnya,mengingatkan hakikat kehidupan dunia.Tetapi ada yang mengganjal bagaimana bisa zuhud,sedangkan kita kelak ingin menyekolahkan anak di sekolah yang bagus seperti ponpes imam bukhori dll.Dengan biaya yang lumayan(mahal) orang tua yang pas-pasan harus lebih keras memburu dunia agar bisa menyekolahkan disana.Kadang seharusnya libur sabtu ahad harus mencari tambahan (lembur)…..Bagaimana dengan posisi seperti ini kita bisa bersikap zuhu?? Mohon resepnya.Jazakumullohu khoiron.
*
agus May 11, 2009, 19:59
Buat sdr Abu Ashma’
Untuk belajar agama bisa belajar sendiri, dengan melalui mp3 dan buku2 yang ada yang sesuai dengan akidah yang lurus, karena insyaallah semua sudah tersedia di internet termasuk juga belajar di website ini. Sedangkan untuk sekolah boleh saja sekolah di tempat yang sesuai dengan kemampuan kita..
*
Tommi May 13, 2009, 12:03
Untuk kawan abu ashma
Sekarang ini sarana untuk belajar banyak sekali, yg penting adalah peran orgtua dalam memfilter untuk anak. Saran saya, sesuaikan biaya sekolah anak dengan kemampuan kita, jgn terlalu berlebih2an, sekaligus mengajarkan pada anak untuk hidup zuhud sesuai tuntunan sunnah. Yang terpenting, kita sebagai ortu harus selalu mendampingi anak kita agar dia punya akhlak yg bagus. Percuma kan, sekolah ditmpt yg bagus tetapi anak tidak mempunyai bekal akhlak yg cukup untuk hidup di masyarakat nanti.
*
pusva May 14, 2009, 11:08
zuhud?
*
wong dheso May 21, 2009, 3:19
Pakaian jubahnya banyak dan sarungnya juga begitu pakah di sebut zuhud ? Kalau saya pernah dapat nasehat pakaian jubah minimal 3 bila lebih 3 hawa nafsu
*
Nurohmah Oct 12, 2009, 11:11
Lengkap bener….!!!!!!!
*
Ra.Zsa-zsa Ainun Habiba Oct 12, 2009, 21:02
WaH,MeNAriK SKLi…
Qw jd Ktaghn memPElaJarI aGAmA lBih DUALLammm gY…
NagHT sPEnmaL…
Artikel Terkait
o Yang Kita Lupakan Dalam Menuntut Ilmu
o Aku Takkan Lupakan Ilmu (2)
o Ketahuilah Dunia Itu Terlaknat
o Tabligh Akbar dan Bedah Buku: Prioritas Dalam Ilmu, Amal dan Dakwah (Jakarta, 10 Agustus 2008)
o Perjalanan Menuju Akhirat
o Kelahiran yang Kedua
o Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris (6)
o Meniti Jalan Istiqomah
o Kelalaian
o Hakikat Tasawuf (1)
Iklan
[tutup jendela iklan]
muslim.or.id
Iklan
presiden pulsa Toko Muslim Distributor Pulsa Elektrik Pustaka Muslim Bahasa Arab Iklan Anda
Komentar Terbaru
* afie: maaf, saya msh kurang mengerti,
* gozali: Assalamu`alaikum wr.wb. kaifa halukum ayyuhal aikhwah
* Haryan: asslmkm... bid'ah subur dan banyak penggemarnya
* ubaidah assalafi: ALhamdulillah, ana dpt ilmu,smg kt
* wulan: bagaimana jika memiliki tmpt tinggl
* Nurul: Subhanalloh.. Sungguh masih awam untk memahami
* Fathur: Weh, Weh, Weh...!! Hal2 Yg Q
* Abdul razak: Assalammualaikum...Wr...Wb artikel ini membuat saya berkemauan
* novi: Penjelasan yg sangat membuka pikiran
* ummi azka: assalamualaikum,semoga Allah memberikan hidayah kpd
Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com
© 2005 - 2009 muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
Info Pasang Iklan
Kasyen theme originally design by cizkah powered by Wordpress
Kategori: Tazkiyatun Nufus
Kata zuhud sering disebut-sebut ketika kita mendengar nasehat dan seruan agar mengekang ketamakan terhadap dunia dan mengejar kenikmatannya yang fana dan pasti sirna, dan agar jangan melupakan kehidupan akhirat yang hakiki setelah kematian. Hal ini sebagaimana peringatan Allah tentang kehidupan dunia yang penuh dengan fatamorgana dan berbagai keindahan yang melalaikan dari hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Allah berfirman,
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu, batil, dan sekadar permainan. Yang dimaksud sekadar permainan adalah sesuatu yang tiada bermanfaat dan melalaikan. Ayat ini juga menunjukkan bahwa dunia adalah perhiasan, dan orang-orang yang terfitnah dengan dunia menjadikannya sebagai perhiasannya dan tempat untuk saling bermegah-megahan dengan kenikmatan yang ada padanya berupa anak-anak, harta-benda, kedudukan dan yang lainnya sehingga lalai dan tidak beramal untuk akhiratnya.
Allah menyerupakan kehancuran dunia dan kefanaannya yang begitu cepat dengan hujan yang turun ke permukaan bumi. Ia menumbuhkan tanaman yang menghijau lalu kemudian berubah menjadi layu, kering dan pada akhirnya mati. Demikianlah kenikmatan dunia, yang pasti pada saatnya akan punah dan binasa. Maka barangsiapa mengambil pelajaran dari permisalan yang disebutkan di atas, akan mengetahui bahwa dunia ibarat es yang semakin lama semakin mencair dan pada akhirnya akan hilang dan sirna. Sedangkan segala apa yang ada di sisi Allah adalah lebih kekal, dan akhirat itu lebih baik dan utama sebagaimana lebih indah dan kekalnya permata dibandingkan dengan es. Apabila seseorang mengetahui dengan yakin akan perbedaan antara dunia dan akhirat dan dapat membandingkan keduanya, maka akan timbul tekad yang kuat untuk menggapai kebahagian dunia akhirat.
Definisi Zuhud
Banyak sekali penjelasan ulama tentang makna zuhud. Umumnya mengarah kepada makna yang hampir sama. Di sini akan disampaikan sebagian dari pendapat tersebut.
Makna secara bahasa:
Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.
Makna secara istilah:
Ibnu Taimiyah mengatakan – sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnu al-Qayyim – bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.
Al-Hasan Al-Bashri menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.
Di sini zuhud ditafsirkan dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati:
1. Bagi seorang hamba yang zuhud, apa yang ada di sisi Allah lebih dia percayai daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?” Beliau menjawab, “Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.” Kemudian beliau ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?” Beliau menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”
2. Apabila terkena musibah, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karenanya daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.
3. Baginya orang yang memuji atau yang mencelanya ketika ia berada di atas kebenaran adalah sama saja. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.
Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sembilan istri. Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.
Tingkatan Zuhud
Ada beberapa tingkatan zuhud sesuai dengan keadaan setiap orang yang melakukannya, yaitu:
1. Berusaha untuk hidup zuhud di dunia; sementara ia menghendaki (dunia tersebut), hati condong kepadanya dan selalu menoleh ke arahnya, akan tetapi ia berusaha melawan dan mencegahnya.
2. Orang yang meninggalkan dunia dengan suka rela, karena di matanya dunia itu rendah dan hina, meskipun ada kecenderungan kepadanya. Dan ia meninggalkan dunia tersebut (untuk akhirat), bagaikan orang yang meninggalkan uang satu dirham untuk mendapatkan uang dua dirham (maksudnya balasan akhirat itu lebih besar daripada balasan dunia).
3. Orang yang zuhud dan meninggalkan dunia dengan hati yang lapang. Ia tidak melihat bahwa dirinya meninggalkan sesuatu apapun. Orang seperti ini bagaikan seseorang yang hendak masuk ke istana raja, terhalangi oleh anjing yang menjaga pintu, lalu ia melemparkan sepotong roti ke arah anjing tersebut sehingga membuat anjing tersebut sibuk (dengan roti tadi), dan ia pun dapat masuk (ke istana) untuk menemui sang Raja dan mendapatkan kedekatan darinya. Anjing di sini diumpamakan sebagai syaitan yang berdiri di depan pintu (kerajaan/surga) Allah, yang menghalangi manusia untuk masuk ke dalamnya, sementara pintu tersebut dalam keadaan terbuka. Adapun roti diumpamakan sebagai dunia, maka barangsiapa meninggalkannya niscaya akan memperoleh kedekatan dari Allah.
Hal-Hal yang Mendorong untuk Hidup Zuhud
1. Keimanan yang kuat dan selalu ingat bagaimana ia berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi. Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana.
2. Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh, sebagaimana firman Allah,
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur: 6)
Perasaan seperti ini akan mendorong seorang hamba untuk hidup zuhud.
3. Dunia hanya akan didapatkan dengan susah payah dan kerja keras, mengorbankan tenaga dan pikiran yang sangat banyak, dan kadang-kadang terpaksa harus bergaul dengan orang-orang yang berperangai jahat dan buruk. Berbeda halnya jika menyibukkan diri dengan berbagai macam ibadah; jiwa menjadi tentram dan hati merasa sejuk, menerima takdir Allah dengan tulus dan sabar, ditambah akan menerima balasan di akhirat. Dua hal di atas jelas berbeda dan (setiap orang) tentu akan memilih yang lebih baik dan kekal.
4. Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan dunia serta kenikmatannya yang menipu (manusia). Dunia hanyalah tipu daya, permainaan dan kesia-siaan belaka. Allah mencela orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang fana ini daripada kehidupan akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)
Dalam ayat yang lainnya Allah berfirman,
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’laa: 16-17)
Semua dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah, mendorong seorang yang beriman untuk tidak terlalu bergantung kepada dunia dan lebih mengharapkan akhirat yang lebih baik dan lebih kekal.
Zuhud yang Bermanfaat dan Sesuai Dengan Syariat
Zuhud yang disyariatkan dan bermanfaat bagi orang yang menjalaninya adalah zuhud yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat demi menggapai kehidupan akhirat. Adapun sesuatu yang memberi manfaat bagi kehidupan akhirat dan membantu untuk menggapainya, maka termasuk salah satu jenis ibadah dan ketaatan. Sehingga berpaling dari sesuatu yang bermanfaat merupakan kejahilan dan kesesatan sebagaimana sabda Nabi,
“Carilah apa yang bermanfaat bagi dirimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim hadits no. 4816)
Yang bermanfaat bagi seorang hamba adalah beribadah kepada Allah, menjalankan ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya. Dan semua yang menghalangi hal ini adalah perkara yang mendatangkan kemudharatan dan tidak bermanfaat. Yang paling berguna bagi seorang hamba adalah mengikhlaskan seluruh amalnya karena Allah. Orang yang tidak memperhatikan segala yang dicintai dan dibenci oleh Allah dan rasul-Nya akan banyak menyia-nyiakan kewajiban dan jatuh ke dalam perkara yang diharamkan; meninggalkan sesuatu yang merupakan kebutuhannya seperti makan dan minum; memakan sesuatu yang dapat merusak akalnya sehingga tidak mampu menjalankan kewajiban; meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar; meningalkan jihad di jalan Allah karena dianggap mengganggu dan merugikan orang lain. Pada akhirnya, orang-orang kafir dan orang-orang jahat mampu menguasai negeri mereka dikarenakan meninggalkan jihad dan amar ma’ruf -tanpa ada maslahat yang nyata-.
Allah berfirman,
“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.’” (QS. Al-Baqarah: 217)
Allah menjelaskan dalam ayat ini, walaupun membunuh jiwa itu merupakan keburukan, akan tetapi fitnah yang ditimbulkan oleh kekufuran, kezaliman dan berkuasanya mereka (orang-orang kafir) lebih berbahaya dari membunuh jiwa. Sehingga menghindari keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan adalah lebih diutamakan. Seumpama orang yang tidak mau menyembelih hewan dengan dalih bahwa perbuatan tersebut termasuk aniaya terhadap hewan. Orang seperti ini adalah jahil, karena hewan tersebut pasti akan mati. Disembelihnya hewan tersebut untuk kepentingan manusia adalah lebih baik daripada mati tanpa mendatangkan manfaat bagi seorang pun. Manusia lebih sempurna dari hewan, dan suatu kebaikan tidak mungkin bisa sempurna untuk manusia kecuali dengan memanfaatkannya, baik untuk dimakan, dijadikan sebagai kendaraan atau yang lainya. Yang dilarang oleh Nabi adalah menyiksanya dan tidak menunaikan hak-haknya yang telah tetapkan oleh Allah.
Nabi bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu, maka jikalau kalian membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim hadits no. 3615)
Zuhud yang Bid’ah dan Menyelisihi Syari’at
Zuhud yang menyelisihi Sunnah tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Karena ia menganiaya hati dan membutakannya, membuat agama menjadi buruk dan hilang nilai-nilai kebaikannya yang diridhai oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya, menjauhkan manusia dari agama Allah, menghancurkan peradaban, dan memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk menguasai mereka; merendahkan kemuliaan seseorang serta menjadikan seorang hamba menyembah kepada selain Allah. Berikut ini beberapa perkataan para penyeru zuhud yang menyelisihi petunjuk Nabi.
Perkataan Junaid, salah seorang penyeru zuhud yang menyelisihi syariat, “Saya senang kalau seorang pemula dalam kezuhudan tidak menyibukkan diri dengan tiga perkara agar tidak berubah keadaannya, yaitu bekerja untuk mendapatkan rezeki, menuntut ilmu hadist, dan menikah. Dan lebih aku senangi jika seorang sufi tidak membaca dan menulis agar niatnya lebih terarah.” (Kitab Quatul-Qulub 3/135, kitab karya Junaid).
Perkataan Abu Sulaiman ad-Darani, “Jika seseorang telah menuntut ilmu, pergi mencari rezeki atau menikah, maka dia telah bersandar kepada dunia.” (Kitab Al-Futuhat Al-Makiyah, 1/37).
Padahal telah dimaklumi bahwa semua peradaban di dunia ini tidak mungkin tegak dan berkembang kecuali dengan tiga perkara, yaitu dengan bekerja, mencari ilmu, dan menikah demi meneruskan keturunan manusia. Rasulullah sendiri telah memerintahkan kita bekerja mencari rezeki sebagaimana dalam sabda beliau,
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya nabi Allah, Dawud, makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Bukhari, III/8 hadits no. 1930)
Dan Rasulullah telah memerintahkan umatnya untuk menikah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (lahir dan batin) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Sesungguhnya pernikahan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Sedangkan untuk yang tidak mampu, hendaklah berpuasa karena puasa itu dapat menjaganya (yaitu benteng nafsu).” (HR. Bukhari, VI/117)
Beliau juga memerintahkan kaum muslimin menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun dunia, sebagaimana sabdanya,
“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (Ibnu Majah hadits no. 220. Hadist Sahih, lihat Kitab Al-Jami’ As-Shahih no. 3808 karya Al-Bani)
Wajib di sini adalah dalam menuntut ilmu agama. Adapun ilmu duniawi, tidak ada seorang pun yang berselisih tentang pentingnya ilmu tersebut, baik berupa ilmu kesehatan, ilmu perencanaan maupun ilmu lainnya yang manusia tidak mungkin terlepas darinya. Terpuruknya kaum muslimin ke dalam jurang kehinaan dan kemunduran pada masa sekarang ini tidak lain akibat kelalaian mereka dalam menuntut ilmu agama yang benar, merasa cukup dengan ilmu duniawi yang mereka ambil dari musuh-musuh mereka dalam berbagai macam aspek kehidupan, baik yang besar maupun yang kecil, banyak maupun sedikit, yang semuanya berujung kepada kebinasaan, hilangnya agama, akhlak, dan hal-hal utama lainnya.
Khatimah
Sebagai penutup tulisan ini, marilah kita lihat bagaimana kehidupan generasi pertama dan terbaik dari umat ini, generasi sahabat yang hidup di bawah naungan wahyu Ilahi dan didikan Nabi. Salah seorang tokoh generasi tabi’in, Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Aku telah menjumpai suatu kaum dan berteman dengan mereka. Tidaklah mereka itu merasa gembira karena sesuatu yang mereka dapatkan dari perkara dunia, juga tidak bersedih dengan hilangnya sesuatu itu. Dunia di mata mereka lebih hina daripada tanah. Salah seorang di antara mereka hidup satu atau dua tahun dengan baju yang tidak pernah terlipat, tidak pernah meletakkan panci di atas perapian, tidak pernah meletakkan sesuatu antara badan mereka dengan tanah (beralas) dan tidak pernah memerintahkan orang lain membuatkan makanan untuk mereka. Bila malam tiba, mereka berdiri di atas kaki mereka, meletakkan wajah-wajah mereka dalam sujud dengan air mata bercucuran di pipi-pipi mereka dan bermunajat kepada Allah agar melepaskan diri mereka dari perbudakan dunia. Ketika beramal kebaikan, mereka bersungguh-sungguh dengan memohon kepada Allah untuk menerimanya. Apabila berbuat keburukan, mereka bersedih dan bersegera meminta ampunan kepada Allah. Mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Demi Allah, tidaklah mereka itu selamat dari dosa kecuali dengan ampunan Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada mereka.” Wallahu A’lam.
Referensi:
1. Qawaid wa Fawaid min Al-Arbaina An-Nawawiyah, karya Nazim Mohammad Sulthan ; cet. Ke-2. 1410; Dar-Alhijrah, Riyadh, KSA.
2. Makarimul-Akhlaq, karya Syakhul-Islam Ibn Taimiyah ; cet. Ke-1. 1313 ; Dar- alkhair, Bairut, Libanon.
3. Tazkiyatun-Nufus, karya Doktor Ahmad Farid ; Dar- Alqalam, Bairut, Libanon.
4. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, karya Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisy, Maktabah Dar Al-Bayan, Damsiq, Suria.
***
Penulis: Ustadz Abu Husam Muhammad Nur Huda
Dipublish ulang oleh muslim.or.id dari Majalah FATAWA
9 komentar | Sebarkan di Facebook| Kirim ke Teman
Artikel Sebelumnya:
Info Paket Belajar Bahasa Arab Dasar Dari NOL
Artikel Selanjutnya:
Launching dan Bedah Buku: Panduan Amal Sehari Semalam (Yogyakarta, 23 Mei 2009)
Kirim Komentar
Click here to cancel reply.
Nama (wajib diisi)
Email (wajib diisi)
Website
Mohon memberikan komentar yang sesuai dengan topik artikel. Komentar Anda akan kami review dahulu sebelum ditampilkan.
Komentar:
9 Komentar
*
amir May 7, 2009, 23:22
HADIRILAH KAJIAN SPESIAL
Tema:
KULIAH, KERJA DAN NIKAH (KKN)
Bersama:
Al-Ustadz JAUHAR, Lc.
(Pengajar Ma’had Imam Bukhori, Solo)
Hari/ Tanggal:
Sabtu, 9 Mei 2009
Waktu:
Pukul 09.00 WIB s.d. Selesai
Tempat:
Masjid An-Nur, SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen, Solo
Informasi:
085725154393
Penyelenggara:
Majelis Kerohanian Islam (MKI) SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen
*
wong dheso May 8, 2009, 2:36
Ini harus benar-benar di praktekkan karena amalan generasi awal
*
abu ashma' May 8, 2009, 21:25
Bagus sekali artikelnya,mengingatkan hakikat kehidupan dunia.Tetapi ada yang mengganjal bagaimana bisa zuhud,sedangkan kita kelak ingin menyekolahkan anak di sekolah yang bagus seperti ponpes imam bukhori dll.Dengan biaya yang lumayan(mahal) orang tua yang pas-pasan harus lebih keras memburu dunia agar bisa menyekolahkan disana.Kadang seharusnya libur sabtu ahad harus mencari tambahan (lembur)…..Bagaimana dengan posisi seperti ini kita bisa bersikap zuhu?? Mohon resepnya.Jazakumullohu khoiron.
*
agus May 11, 2009, 19:59
Buat sdr Abu Ashma’
Untuk belajar agama bisa belajar sendiri, dengan melalui mp3 dan buku2 yang ada yang sesuai dengan akidah yang lurus, karena insyaallah semua sudah tersedia di internet termasuk juga belajar di website ini. Sedangkan untuk sekolah boleh saja sekolah di tempat yang sesuai dengan kemampuan kita..
*
Tommi May 13, 2009, 12:03
Untuk kawan abu ashma
Sekarang ini sarana untuk belajar banyak sekali, yg penting adalah peran orgtua dalam memfilter untuk anak. Saran saya, sesuaikan biaya sekolah anak dengan kemampuan kita, jgn terlalu berlebih2an, sekaligus mengajarkan pada anak untuk hidup zuhud sesuai tuntunan sunnah. Yang terpenting, kita sebagai ortu harus selalu mendampingi anak kita agar dia punya akhlak yg bagus. Percuma kan, sekolah ditmpt yg bagus tetapi anak tidak mempunyai bekal akhlak yg cukup untuk hidup di masyarakat nanti.
*
pusva May 14, 2009, 11:08
zuhud?
*
wong dheso May 21, 2009, 3:19
Pakaian jubahnya banyak dan sarungnya juga begitu pakah di sebut zuhud ? Kalau saya pernah dapat nasehat pakaian jubah minimal 3 bila lebih 3 hawa nafsu
*
Nurohmah Oct 12, 2009, 11:11
Lengkap bener….!!!!!!!
*
Ra.Zsa-zsa Ainun Habiba Oct 12, 2009, 21:02
WaH,MeNAriK SKLi…
Qw jd Ktaghn memPElaJarI aGAmA lBih DUALLammm gY…
NagHT sPEnmaL…
Artikel Terkait
o Yang Kita Lupakan Dalam Menuntut Ilmu
o Aku Takkan Lupakan Ilmu (2)
o Ketahuilah Dunia Itu Terlaknat
o Tabligh Akbar dan Bedah Buku: Prioritas Dalam Ilmu, Amal dan Dakwah (Jakarta, 10 Agustus 2008)
o Perjalanan Menuju Akhirat
o Kelahiran yang Kedua
o Mengikuti Ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Bukanlah Teroris (6)
o Meniti Jalan Istiqomah
o Kelalaian
o Hakikat Tasawuf (1)
Iklan
[tutup jendela iklan]
muslim.or.id
Iklan
presiden pulsa Toko Muslim Distributor Pulsa Elektrik Pustaka Muslim Bahasa Arab Iklan Anda
Komentar Terbaru
* afie: maaf, saya msh kurang mengerti,
* gozali: Assalamu`alaikum wr.wb. kaifa halukum ayyuhal aikhwah
* Haryan: asslmkm... bid'ah subur dan banyak penggemarnya
* ubaidah assalafi: ALhamdulillah, ana dpt ilmu,smg kt
* wulan: bagaimana jika memiliki tmpt tinggl
* Nurul: Subhanalloh.. Sungguh masih awam untk memahami
* Fathur: Weh, Weh, Weh...!! Hal2 Yg Q
* Abdul razak: Assalammualaikum...Wr...Wb artikel ini membuat saya berkemauan
* novi: Penjelasan yg sangat membuka pikiran
* ummi azka: assalamualaikum,semoga Allah memberikan hidayah kpd
Silakan menyebarkan artikel yang ada di muslim.or.id dengan harus menyertakan muslim.or.id sebagai sumber artikel. Muslim.or.id menerima bantuan penerjemahan artikel muslim.or.id ke dalam bahasa inggris. Silakan hubungi muslim.or.id@gmail.com. Info iklan silakan hubungi muslimadv@gmail.com
© 2005 - 2009 muslim.or.id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah
Info Pasang Iklan
Kasyen theme originally design by cizkah powered by Wordpress
Selasa, 08 September 2009
Kepemimpinan
Mengembangkan Kepemimpinan dalam Diri Anda (John Maxwell) Rp47.300
Kalau Anda memegang suatu posisi kepemimpinan, dari eksekutif bisnis atau pemimpin gereja sampai orangtua atau guru, Anda mungkin sering bertanya-tanya kepada diri sendiri apa yang diperlukan untuk membuat seorang pemimpin. Dan sekarang Anda dapat menemukan jawabannya dalam Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda.
Dengan memeriksa perbedaan antara beberapa gaya kepemimpinan, John Maxwell membuat garis besar prinsip-prinsip untuk mengilhami, memotivasi, dan mempengaruhi orang lain. Prinsip-prinsip ini bisa digunakan dalam organisasi manapun juga untuk membangkitkan integritas dan disiplin pribadi serta mendatangkan perubahan positif.
Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda juga menyelidiki bagaimana cara untuk menjadi efektif dalam tuntutan kepemimpinan yang tertinggi dengan memahami lima watak yang memisahkan ”manajer pemimpin” dan ”manajer yang menjalankan pabrik”.
This product was added to our catalog on Thursday 08 Nove
Kalau Anda memegang suatu posisi kepemimpinan, dari eksekutif bisnis atau pemimpin gereja sampai orangtua atau guru, Anda mungkin sering bertanya-tanya kepada diri sendiri apa yang diperlukan untuk membuat seorang pemimpin. Dan sekarang Anda dapat menemukan jawabannya dalam Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda.
Dengan memeriksa perbedaan antara beberapa gaya kepemimpinan, John Maxwell membuat garis besar prinsip-prinsip untuk mengilhami, memotivasi, dan mempengaruhi orang lain. Prinsip-prinsip ini bisa digunakan dalam organisasi manapun juga untuk membangkitkan integritas dan disiplin pribadi serta mendatangkan perubahan positif.
Mengembangkan Kepemimpinan di Dalam Diri Anda juga menyelidiki bagaimana cara untuk menjadi efektif dalam tuntutan kepemimpinan yang tertinggi dengan memahami lima watak yang memisahkan ”manajer pemimpin” dan ”manajer yang menjalankan pabrik”.
This product was added to our catalog on Thursday 08 Nove
Langganan:
Komentar (Atom)