Bisnis

  1. Bisnis Online Syariah

    www.zonabonus.com
    Cari Uang Online Sampingan
    Halal dan dengan modal kecil

Minggu, 28 Februari 2010

Membaca ayat-ayat diri

Membaca ayat-ayat diri

Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Kita harus yakin dan sadar, bahwa diri kita ini bukanlah pribadi yang terpisah dari Allah dan bisa mandiri.
Karena terbukti pada saat tidur maupun bangun, tidak pernah sesaatpun kita lepas dari Pengaturan Allah yang Maha Mengatur seluruh gerak dan diam semua makhluk Nya (baca: Mengenal (hakikat) diri).
Kalaupun kita mempunyai aturan-aturan hidup sendiri, kalaupun kita punya rencana-rencana aktifitas sendiri, hendaklah semua aturan dan rencana itu kita sandarkan sepenuhnya kepada Aturan dan Rencana Nya Allah.
Jangan sampai aturan dan rencana kita itu berseberangan atau bahkan bertolak belakang dengan Aturan dan Rencana Allah Yang Maha Bijaksana.
Karena sehebat apapun diri kita, sepandai apapun diri kita, aturan dan rencana kita itu belum tentu yang terbaik untuk kita, walaupun itu kita anggap baik atau bahkan sesuai dengan syari’at sekalipun.
Dan terbukti betapa banyak orang yang stress, betapa banyak orang yang dijangkiti penyakit tubuh yang berat-berat ketika kemauannya tidak bisa berjalan dengan baik, karena tidak sesuai dengan keadaan atau kemauan orang-orang disekitarnya.
Kita ini hanyalah sekedar menjalankan aturan tetapi Allah-lah yang menentukan hasilnya.
Nah orang yang stress atau dihinggapi penyakit karena keinginannya yang tidak terpenuhi, adalah tanda siksaan awal sebelum dia merasakan siksaan yang sesungguhnya di akhirat.
Ini artinya, dia belum menjadi seorang muslim yang benar-benar berserah diri kepada (apapun ketentuan Nya) Allah.
Apa saja Ketentuan Nya Allah ?
Apapun yang diciptakan Allah yaitu apapun yang wujud dan yang terjadi, baik yang ada di langit bumi dan seisinya maupun yang ada didalam diri manusia.
“ Allahulladzii kholaqos samaawaati wal ardlo wamaa baina huma….. “,
“ Allah Dialah Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan apapun yang ada diantara keduanya… “ S. As Sajdah 4.
Jadi apapun yang ada dan yang terjadi disekitar kita (termasuk didalam diri kita), semuanya itu adalah ciptaan dan Ketetapan Allah yang wajib kita sikapi dengan arif dan bijaksana.
Bukannya disikapi dengan kesal hati atau memaksakan menurut kemauan kita.
Disinilah pentingnya membaca ayat-ayat diri untuk mengetahui labih banyak dan lebih dalam mengenai hakikat diri kita yang sesungguhnya.
“ Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." S. Al Israa’ 14.
Kitab suci Al Qur’an, didalamnya berisi ayat-ayat Allah.
Yaitu ayat-ayat tersurat yang menerangkan tentang ayat-ayat tersirat yang terdapat didalam langit bumi dan seluruh isinya, atau biasa disebut alam khobir (alam yang besar).
Selain alam khobir, Al Qur’an juga menerangkan tentang ayat-ayat tersirat yang terdapat didalam diri manusia, atau yang disebut alam dzohir (alam yang kecil).
Dengan demikian jika Allah memerintahkan kita untuk membaca kitab kita, itu tidak lain adalah membaca tentang ayat-ayat (tanda-tanda Kebesaran Allah, didalam) diri kita.
“ Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah “ S. Al ‘Alaq 1-2.
Dari sini semakin jelas bahwa diri kita adalah Kitab Nya Allah yang berisi tentang ayat-ayat Allah, yaitu tanda bukti Kebesaran Nya Allah dalam menciptakan semua wujud dan kejadian didalam diri kita, serta apapun aktifitas lahir dan batin kita.
Dimana kesemuanya itu merupakan Maha Kuasa Nya Allah (dalam menciptakan kita) sesuai dengan Kehendak Nya.
Artinya : Apapun yang terdapat didalam diri kita, tidak dapat kita tolak dan tidak dapat kita minta kecuali mutlak atas Maha Kuasa dan Maha Berkehendak Nya Allah.
Seperti halnya penyakit-penyakit lahiriah didalam diri kita, mampukah kita menolak kedatangannya ?.
Atau penyakit-penyakit batiniah kita, tidak ada satupun yang mampu kita cegah.
Paling-paling kita hanya bisa mengupayakan agar penyakit-penyakit itu hilang dari diri kita.
Demikian juga sebaliknya, apakah kita pernah meminta kepada Allah agar diberi kesehatan dan kekuatan untuk beraktifitas dan menikmati hidup ?, agar semua panca indera dan akal pikiran kita dijadikan berfungsi semuanya secara normal ?..... tidak pernah !
Karena Allah lebih Mengetahui kebutuhan kita dari pada diri kita sendiri.
Tanpa pernah kita mintapun, Allah telah memenuhi semua kebutuhan kita untuk menjalani hidup secara mudah dan enak.
Tapi mengapa kita malah menjadi orang yang sedikit sekali bersyukur ?
“ Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur “ S. Al Mulk 23.
Mengapa kita malah menjadi orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat bahkan meminta yang lebih banyak lagi ?
Ini membuktikan bahwa diri kita ini tidak pernah ada puas-puasnya, karena hanya pandai memandang nikmat saja tapi tidak pernah memperhatikan (Af ‘al Nya) Allah dengan segala Sifat Rahman Nya.
Ini membuktikan bahwa diri kita ini belum memiliki sifat qona’ah, yaitu salah satu unsur dari ketakwaan.
Disinilah (sekali lagi) pentingnya mengenal diri dengan cara membaca ayat-ayat diri, agar kita bisa menjadi orang yang benar-benar berserah diri (muslim), yaitu orang yang selalu mensyukuri nikmat dan bersabar terhadap apapun Ketentuan Allah.
Sesungguhnya inilah inti dan tujuan utama dari seorang muslim yang mengabdi kepada Allah.
Karena orang yang tidak pandai bersyukur, azab yang sangat pedih telah menanti, baik yang bersifat ringan didunia, dan terutama azab yang sangat berat diakhirat nanti.
“ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" S. Ibrahim 7.

Membaca keinginan didalam diri.
Manusia hidup pasti mempunyai keinginan.
Hanya orang yang tidur dan mati saja yang tidak mempunyai keinginan, karena jiwanya berada didalam Genggaman (Kekuasaan) Allah (S. Az Zumar 42).
Nah munculnya hasrat dan keinginan pada diri manusia, disebabkan oleh adanya 2 faktor : yaitu karena takut dan tertarik (senang) oleh sesuatu.
Orang yang sangat takut terhadap sesuatu, keinginannya sangat kuat untuk menghindari apa yang dia takuti itu.
Pada saat seperti ini, dia merasa kecil dihadapan apa yang ditakutinya.
Sebaliknya jika dia amat menyenangi sesuatu, keinginannya juga sangat kuat untuk mengejar dan mendapatkan apa yang dia senangi itu.
Dalam hal ini, dia menganggap dirinya lebih besar dan lebih mampu untuk mendapatkan dan menguasai apa yang dia senangi.
Apalagi jika dia berhasil memperolehnya, rasa puas dan bangga dirinya melambung tinggi.
Ini semua adalah ayat-ayat Allah yang ditanamkan didalam diri manusia.
“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) “ S. Ali ‘Imraan 14.
Dari faktor kesenangan, ada 2 jenis kesenangan hidup yang diinginkan oleh manusia.
Kesenangan hidup didunia dan kesenangan hidup dialam akhirat (disisi Allah).
Hidup dan kehidupan manusia yang digerakkan oleh jiwanya, menghendaki (ingin) kedua kesenangan tersebut.
Namun faktanya, kedua kesenangan itu tidak pernah mau menyatu didalam diri manusia.
Karena kesenangan duniawi yang bersifat kasar, hanya dapat dirasakan oleh jasad kasar.
Sedangkan jika manusia telah memperoleh kesenangan duniawi, dia tidak akan mendapat kebahagiaan akhirat (tidak mendapat kebahagiaan hati).
Karena jasad halusnya (yang merasakan kesenangan duniawi itu) telah menyatu dan mengikuti jasad kasarnya untuk menikmati kesenangan dunia tersebut.
“ Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan didunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“ S. Huud 15-16.
Jasmani manusia yang diciptakan dari tanah (bumi) memang butuh konsumsi dari bumi.
Begitupun segala urusan manusia didunia, memerlukan harta dunia yang tidak bisa digantikan oleh yang lain.
Tapi kebutuhan manusia terhadap makanan dan minuman, sudah bukan lagi sekedar memenuhi perut yang lapar dan tenggorokan yang haus, melainkan telah berubah menjadi kepuasan diri dengan kelezatan dan nikmatnya makanan tersebut.
Jika dihadapannya telah tersaji makanan yang bukan kesukaannya, dia tidak mau makan.
Padahal Rasulullah saw. bersabda : “ Makanlah dikala lapar dan berhentilah sebelum kenyang “.
Makanan yang sangat sederhana sekalipun, tapi jika dimakan pada saat lapar, maka jadilah makanan yang sangat nikmat.
Justru dari sinilah orang akan bisa mensyukuri nikmat.
Yaitu bersyukur bukan karena merasakan nikmatnya makanan, tetapi mensyukuri nikmat Allah yang memberikan kemampuan bisa menangkap rasa nikmat terhadap makanan itu.
Memang nikmat itu terletak pada makanan, tapi jika Allah tidak memberikan karunia berupa kemampuan bisa menangkap rasa nikmat tersebut, kitapun tidak bisa merasakan nikmat.
Seperti contoh jika kita diuji dengan kondisi sakit, mampukah kita merasakan nikmatnya pizza atau hamburger ?
Nah, jika yang kita fokuskan hanyalah nikmatnya makanan, walaupun kita mengucapkan Alhamdulillah, rasa syukur kita tidaklah tertuju kepada Allah tetapi tertuju kepada makanan itu atau yang membuatnya.
Terbukti setelah makan kita memuji enaknya makanan itu atau memuji yang membuat makanan, bukan memuji Allah.
Begitupun dengan kebutuhan manusia terhadap harta dunia, telah berubah fungsi dari yang seharusnya sekedar memenuhi kebutuhan hidup menjadi keinginan yang berbuah kesenangan dan kebanggaan hidup.
Dari sinilah hati manusia telah tertutupi oleh kecintaannya kepada dunia sehingga lupa dengan akhiratnya dan merasa berat untuk menjalani ketaatan kepada Tuhannya.
Ini semua tidak terlepas dari berubahnya pola hidup, yaitu dari yang awalnya hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup menjadi keinginan hidup yang berlebih-lebihan.
Ada rasa bangga diri apabila bisa hidup diatas kesederhanaan yang dialami orang lain.
Ada rasa kepuasan diri jika segala urusan hidupnya bisa diselesaikan dangan uang.

Nah, apa yang menyebabkan hati dipenuhi oleh berbagai macam keinginan terhadap kesenangan duniawi ?
Tidak lain adalah karena terlalu seringnya mata, telinga dan seluruh panca inderanya menangkap berbagai macam kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.
“ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang….”
Allah yang Maha Bijaksana telah menanamkan rasa suka pada diri manusia terhadap apapun keindahan dan kenikmatan yang ditangkap (dirasakan) oleh panca indera dan jasad lahirnya.
Keindahan dan kenikmatan ini diterima dengan senang hati oleh jiwa manusia, lalu timbullah keinginan untuk memiliki dan merasakannya.
Begitulah sifat manusia yang terus-menerus menuntut jika panca inderanya selalu diarahkan kepada keindahan, kecantikan dan kenikmatan.
Sudah mempunyai harta yang cukup, tapi begitu melihat orang lain hidup bergelimang uang, timbul keinginan untuk mencari uang lebih banyak lagi, entah bagaimana caranya.
Sudah memiliki rumah yang mapan, tapi begitu melihat rumah orang lain yang mewah, timbul keinginannya untuk merenovasi rumahnya atau membeli rumah yang baru.
Sudah mempunyai istri yang cantik, tapi begitu melihat wanita lain yang menggairahkan, timbul keinginan untuk beristri lagi, begitu seterusnya.
“…..Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) “
Nah, jika arah pandang seseorang itu selalu ditujukan kepada yang diatas dirinya, jiwanya tidak pernah merasa puas sehingga jadilah dia orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat.
Tetapi sebaliknya, jika arah pandangnya itu lebih banyak ditujukan kepada situasi dibawah kondisi dirinya, maka lambat laun hatinya akan tersentuh dan bersifat lembut.
Karena itu, kondisi hati seseorang akan terbentuk berdasarkan arah pandangnya.
Itulah yang dijalani jujungan kita Rasulullah saw. yang selalu dekat dengan anak yatim dan para fakir miskin.
Karena bergaul dan berdekatan dengan orang-orang yang kurang beruntung, akan menghidupkan sisi jiwa yang putih, yaitu jiwa yang mempunyai sifat kasih sayang terhadap sesama makhluk Tuhan.
Sebaliknya jika bergaul dengan orang-orang yang hidupnya makmur, selalu memandang wanita-wanita cantik maupun segala bentuk keindahan dan kenikmatan, jiwa yang hitam ini akan bangkit dan menghidupkan sifat-sifatnya yang buruk.
Yaitu berupa kesombongan, suka menghina dan meremehkan (walaupun didalam hati), sifat bakhil dan segala macam penyakit-penyakit hati.
Oleh sebab itu Allah melarang kita untuk tidak terlalu sering memandang kenikmatan hidup orang lain yang mengakibatkan hati kita menjadi tertarik,
“ Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir “ S. At Taubah 55.
Nah jadi lingkup pergaulan dan arah pandang, amat menentukan terbentuknya sebuah hati.
Ada kisah menarik tentang dua (jenis) orang yang sedang naik haji ke Mekkah.
Salah seorang diantaranya adalah orang yang kaya raya, sedang yang satunya lagi adalah orang berilmu.
Seperti diketahui, orang berhaji adalah orang yang menjadi tamu Nya Allah.
Jika seseorang bertamu, sudah barang tentu yang hendak dijumpai adalah Sang Pemilik Rumah (Baitullah), bukan hanya bertemu Rumah Nya saja (Ka’bah).
Nah ketika dua orang ini sampai di Mekkah, ada seorang yang ‘istimewa’ menemui mereka.
Ketika orang istimewa ini menemui orang yang kaya raya, dia berkata : “ Jika kamu hendak bertemu Allah, bukan disini tempatnya. Tapi disana “, dia menunjuk kearah orang-orang fakir miskin dan anak yatim yang tiba-tiba tampak dihadapan mereka.
Lalu orang ‘istimewa’ ini menjumpai orang yang satunya lagi, yaitu orang yang berilmu, lalu berkata : “ Jika kamu hendak berjumpa dengan Allah, bukan disini tempatnya. Tapi disana “, orang itu menunjuk kearah orang-orang yang bodoh (agamanya), yang tiba-tiba tampak dihadapan mereka.
Inti pelajaran dari kejadian ini ialah : Haji adalah puncaknya agama.
Yaitu perjumpaan akbar antara hamba dengan Tuhannya Yang Maha Suci ditempat yang suci pula.
Tetapi perjumpaan itu tidak terjadi secara fisik melainkan dengan jiwa (hati) yang suci.
“ Idz jaa a robbuhu biqolbis saliim “,“ (Ingatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci “ S. Ash Shaffaat 84.
Hati yang suci adalah hati yang selamat (saliim).
Yaitu hati yang menguasai jiwa dan raga seseorang untuk melakukan pengabdian yang tulus kepada Allah.
Dari segi fisik, orang seperti ini adalah pelaku rahmatan lil ‘aalamiin, yaitu orang yang membagikan keselamatan dan Rahmat Nya Allah bagi sekalian alam (alam lingkungannya).
Dengan kata lain, orang seperti ini adalah orang yang ber-akhlak terpuji.
Oleh sebab itu tidak sah haji seseorang jika masih ada tetangganya yang kelaparan.
“ Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “ S. An Nahl 60.
Allah Swt. menekankan kata Iman dangan akhlaqul karimah.
Demikian juga banyak hadis-hadis Nabi saw. yang menyebutkan demikian.
Ini artinya : Buah dari keimanan adalah akhlak yang terpuji.

Jadi kesimpulannya, ayat yang berbunyi :
“ Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu."
Adalah tidak hanya sekedar membaca Al Qur’an, tetapi yang tidak kalah pentingnya ialah membaca ayat-ayat (ciptaan-ciptaan) Allah didalam diri kita, dalam wujud kefasikan dan ketakwaan didalam diri.
“ dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya S. Asy Syams 7-10.
Buah dari kefasikan diri (jiwa) adalah akhlak yang buruk, sedangkan buah dari ketakwaan diri adalah akhlak-akhlak yang terpuji.
Manusia yang selalu berhadapan dengan dua keadaan, baik dan buruk, fasik dan takwa, iman dan ingkar,….. sadar maupun tidak, pasti memilih salah satu dari kedua jalan tersebut.
Orang yang tidak menyadari kedudukannya sebagai Ciptaan Allah, tidak perlu bersusah-susah untuk menjadi orang yang fasik.
Karena dunia dan segala kenikmatannya, telah secara otomatis membimbingnya menuju kejalan kefasikan.
Konsekwensinya, dia kelak akan menghadapi perhitungan yang buruk dan sangat berat karena menjadikan amanah-amanah (nikmat) Allah sebagai modal untuk berfoya-foya dan bermegah-megahan didunia.
Sedangkan orang-orang yang mempunyai kesadaran yang tinggi untuk menghamba, pasti memilih jalannya orang-orang bertakwa.
Yaitu orang yang selalu menjaga agar setiap nikmat yang diberikan kepadanya, senantiasa disyukurinya dengan jalan menyembah Allah.
Inilah orang yang berupaya membersihkan hatinya atau mensucikan jiwanya agar nilai pengabdiannya kepada Allah tulus lahir dan batin (ikhlas).
Wallohu ‘alam bishshowaab.

Diposkan oleh hari di 16:10

Label: artikel jalan lurus

0 komentar:

Poskan Komentar
Poskan Komentar

Tidak ada komentar: