Bisnis

  1. Bisnis Online Syariah

    www.zonabonus.com
    Cari Uang Online Sampingan
    Halal dan dengan modal kecil

Minggu, 01 Juni 2008

Bioenergi

Solusi agar Bioenergi Tak Picu Kelaparan
Kekhawatiran biofuel sebagai energi masa depan akan memicu kelaparan dunia dianggap sebagai kekhawatiran berlebihan. Masih ada solusi bagaimana agar tanaman sumber bioenergi tidak “menggusur” lahan pangan.
Pecinta lingkungan menuding bioenergi dapat merusak kerahaman hayati. Sebagian ilmuwan menganggap bioenergi mampu memicu bencana kelaparan dunia. Namun semua diklaim sebagai kekhawatiran berlebihan.
“Menurut saya ini kekhawatiran berlebihan walaupun ada indikasi yang mengatakan bahwa karena insentif yang menarik maka petani bergeser menanam tanaman untuk energi ketimbang pangan,” ungkap Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman kepada SH belum lama ini.
Lahan Kritis
Ia menekankan bahwa peran utama pemerintah sebagai regulator sangat penting agar tidak terjadi penggusuran lahan pangan oleh lahan yang dibutuhkan untuk tanaman bioenergi. Maka itu, ia sejak jauh-jauh hari mengupayakan agar lahan yang dipakai sebagai lahan kebun bioenergi adalah lahan kritis, bukan hutan atau lahan kebun.
Sementara itu, solusi juga harus dicari supaya jenis tanaman yang dipakai sebagai bahan bioenergi bukan tanaman untuk kepentingan pangan. “Misalnya jathropa curcas yang jelas tidak akan berkompetisi dengan pangan,” papar Kusmayanto.
Biofuel, bioethanol, dan semua bahan bakar dari tanaman memang diidolakan menjadi pengganti bahan bakar fosil, tapi agaknya tidak semulus itu. Pemakaian bahan bakar yang berasal dari tanaman itu dikecam karena berisiko mendatangkan bencana kelaparan.
Adalah C Ford Runge dan Benjamin Senauer dari University of Minnesota yang mengatakan bahwa penggunaan bioethanol membutuhkan lahan jagung dan perkebunan lainnya demi pengadaan bahan bakar.
Kedua ilmuwan tersebut menulis di jurnal Foreign Affairs edisi teranyar bahwa pemerintah AS harus segera menghentikan insentif bagi pengguna biofuel yang selama ini berasal dari kedelai dan jagung. “Pengadaan biofuel menyebabkan bencana kelaparan dunia. Sejumlah studi oleh ahli ekonomi dari World Bank membuktikan bahwa konsumsi kalori di sejumlah negara miskin berkurang sekitar setengah hingga satu persen ketika harga bahan makanan mayoritas meningkat satu persen,” demikian tulis mereka.
Iming-iming pemberian insentif dari pemerintah bagi petani yang menanam jagung, kedelai dan tanaman lain yang diolah menjadi bioethanol, membuat petani memilih menanam pohon-pohon itu daripada pohon untuk kepentingan pangan. Akibatnya, bahan pangan berkurang, dan membuat harganya melonjak di pasaran.
Di AS, imbas paling dirasakan dari bahan makanan jagung, sebab memang disana dikembangkan bioethanol jagung. Di Brasil, tanaman singkong dan tebu dibudidayakan untuk diolah menjadi bioethanol.

Target
“Harga bahan bangan meningkat akibat tingginya permintaan pasokan bahan biofuel. Jika diekuivalenkan, jumlah orang yang terancam krisis pangan di dunia bisa meningkat hingga 16 juta bagi setiap peningkatan persentasi dalam harga yang sesungguhnya,” tulis mereka lagi.
Ini berarti ada 1,2 miliar orang terancam kelaparan kronis pada tahun 2025, sebanyak 600 juta lebih banyak dari perkiraan semula. Akibat program biofuel, harga jagung di AS bisa melonjak 20 persen pada tahun 2010 dan 41 persen pada tahun 2020.
Lahannya bahkan mengancam lahan pertanian lain seperti padi dan tepung, sebab petani lebih suka menanam jagung untuk kebutuhan bioethanol akibat harganya lebih menguntungkan.
Bukan hanya jagung, melainkan juga jenis tanaman lain yang bisa diolah menjadi bioethanol akan ditingkatkan jumlah lahannya. Akibatnya, lahan untuk tanaman bahan pangan seperti padi dan gandum akan berkurang, pasokan pangan menurun, dan harga terus melonjak.
Bagaimana di Indonesia? Sama dengan beberapa negara lain, kita menetapkan biofuel sebagai energi masa depan. Sampai tahun 2025 pemerintah menargetkan pemakaian energi dari biofuel meningkat menjadi 5 persen dari total konsumsi. Tanaman yang ditargetkan adalah kelapa sawit, jarak pagar, dan tebu.

Tidak ada komentar: