Bisnis

  1. Bisnis Online Syariah

    www.zonabonus.com
    Cari Uang Online Sampingan
    Halal dan dengan modal kecil

Minggu, 25 Mei 2008

Lagu Lama, Pariwisata Minim Promosi
Promosi pariwisata Indonesia masih dianggap kurang menyebabkan pariwisata belum tergarap maksimal. Padahal, sektor ini bisa menjadi penyumbang utama devisa negara. Karena itu pariwisata harus didorong dan dipromosikan agar tergarap maksimal meskipun sebenarnya pemerintah kekurangan dana untuk promosi ini.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jerro Wacik mengatakan, untuk lebih memperkenalkan pariwisata baik dalam negeri maupun di luar negeri diperlukan duta pariwisata. Mereka akan bertugas mempromosikan pariwisata Indonesia, dan diharapkan dapat membawa kemajuan bagi sektor ini.
"Pemerintah memang kekurangan biaya promosi karena ekonomi kita belum baik. Namun yang paling penting adalah semangat. Itulah kita memerlukan duta-duta pariwisata," kata Jerro Wacik saat memberikan sambutan pada grand final pemilihan Duta Wisata Indonesia di Jakarta, Kamis malam (31/8).
Jerro Wacik menjelaskan, sektor pariwisata ini menyumbang sekitar lima miliar dolar AS setiap tahun bagi devisa negara. Jumlah itu merupakan kedua terbesar setelah sektor minyak dan gas (migas).
Sektor pariwisata, tambahnya sangat bisa menjadi penyumbang terbesar bagi devisa negara. Seperti di beberapa negara yang menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa utama, maka pariwisata perlu didorong agar mampu memperbesar pemasukan bagi negara dan mengalahkan sektor migas.
Dari mana perbesaran sumbangan sektor pariwisata itu, Jerro Wacik malam itu mengatakan bahwa potensi pariwisata yang ada tidak kalah menariknya dan banyak pemandangan alam yang indah, pegunungan, pantai, tradisi yang hingga saat ini belum tergarap maksimal dan memerlukan promosi agar dikenal oleh wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.
"Kekurangannya hanya kurangnya promosi. Rata-rata orang tua, saudara kita, teman kita, dan orang-orang di lingkungan kita, hanya mengenal tiga provinsi dari 33 provinsi yang ada. Karena itu mari kenali seluruh negeri, kenali pakaian, tarian, musik, daerah dan sebagainya," ujarnya, meminta bangsa sendiri agar lebih mengenal berbagai masyarakat dengan kebudayaan dan tradisi mereka yang unik sehingga hal itu bisa diberitahukan kepada siapa saja. Maksudnya, ragam tradisi dan potensi pariwisata tersebut dikenal oleh masyarakat Indonesia sendiri bisa pula memperkenalkan.
Rakyat negeri ini, menurut Jerro, belum mengenal kekayaan dan keindahan alam, tradisi dan berbagai budaya masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Kelemahan itu merupakan kendala bagi promosi wisata apabila datang wisatawan asing ke suatu daerah tetapi masyarakat di daerah tersebut tidak bisa memberi informasi mengenai daerah lain yang diminta wisatawan. "Apalagi di luar negeri, potensi pariwisata ini masih perlu dipromosikan. Inilah tugas duta wisata," katanya. Sebetulnya yang menjadi duta pariwisata, ujar Jerro, adalah seluruh rakyat. Idealnya, seluruh orang Indonesia bisa menjadi duta wisata. Begitu pula para Duta Besar Indonesia di luar negeri harus bisa menjadi duta-duta wisata Indonesia. "Seluruh gubernur, menteri diharapkan juga bisa menjadi duta wisata,"katanya.
"Artinya, seluruh orang Indonesia memperkenalkan kebaikan negerinya. Tidak satupun boleh orang Indonesia mengatakan negerinya jelek," dia menambahkan.

Pariwisata perlu didorong untuk kegiatan ekonomi yang khas. Seperti dikatakan, ada beberapa negara di dunia yang menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa utama. Dengan keadaan sekarang saja, pariwisata sudah bisa memberikan devisa rata-rata lima dolar AS per tahun merupakan bukan nilai yang kecil bagi kas negara.

"Perlu dicatat bedanya devisa pariwisata dengan devisa lain. Devisa dari pariwisata sebagian besar langsung ke masyarakat," kata dia penuh semangat.

Kalau ada orang Jepang datang ke Indonesia, maka tiba di Bandara Sukarno Hatta, lalu naik taksi. Wisatawan itu menginap di sebuah hotel. Setelah itu makan di restoran atau rumah makan, berbelanja di pasar atau swalayan dan sebagainya. "Semua uang yang dibayarkannya itu langsung diberikan pada sopir taksi, penginapan di hotel, juga kepada restoran di mana saja dia makan. Begitu seterusnya. Semua uang itu sebagian besar langsung mengalir ke masyarakat," ujarnya menjelaskan.

Grand final pemilihan Duta Wisata Indonesia yang diikuti oleh 24 provinsi yang berlangsung di Ruang Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, terpilih sebagai Duta Wisata Indonesia 2006 adalah Yosep Rohadi dan Nadia Zahara dari Jawa Timur. Runner up pertama terpilih Ichan Pebrianto dan Amiliana Wijayanti dari Sumatera Selatan.

Runner up kedua, sebagai duta wisata intelegensia, perdamaian dan persahabatan. Mereka berturut-turut adalah, I Wayan Agus Ardiana dan Merlynda Puspa (Bangka Belitung), Nurhafni Hafid dan ERwin Darwis (Sulawesi Selatan), I Gusti Ngurah Agung Sumardika dan Ni Made Dian Agustina (Bali), dan Jemmi Musa Ayomi dan Rina Sarlota Soro (Papua).

Jerro Wacik berharap, para Duta Wisata Indonesia tersebut dimasa mendatang dapat menjadi wakil Indonesia untuk kegiatan-kegiatan di luar negeri dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.

Penyelenggaraan pemilihan Duta wisata Idnonesia itu sendiri baru pertama kali diadakan, dalam rangka mengalakkan wisata nusantara dan program Kenali Negerimu, Cintai Negerimu. (Indra)

Tidak ada komentar: